Dua Band Reggae Bali Rilis Album Bersamaan

CD 2PREGINA Art & Showbiz unjuk gigi lagi. Rumah produksi yang menjadi pelopor rekaman band rock alternative berbahasa Bali dengan mengorbitkan Lolot 14 tahun silam ini, baru saja memperkenalkan produksi baru. Dua band beraliran reggae merilis album bersamaan. Pertama“Persaudaraan Tanpa Batas” rekaman dari band reggae mebasa Bali Joni Agung & Double T. dan satu lagi “Morning of The World” dari band fusion reggae The Bodhi. Peluncuran kedua album ini akan dintandai dengan stau konser khusus, selasa (14/2) di panggung terbuka di halaman TVRI Denpasar.

“Persaudaraan Tanpa Batas” merupakan album ke-5 Joni Agung & Double T, yang tetap konsisten di jalur musik reggae dengan membawakan lagu berbahasa Bali maupun Indonesia. Sejumlah lagu yang terangkum dalam album ini dengan mengangkat beragam istu ralitas kehidupan masyarakat Bali serta pesan penting untuk dapat bangga sebagai orang Bali maupun Indonesia. Lagu-lagu seperti  “Hancurkan”, “Manis-manesin”, “Ngalih Liang”, “Pembantu”, “NKRI” maupun Rare Angon” dibawakan tetap dengan gaya khas Joni Agung. Hanya karena materinya sebagian besar direkam secara live record, Joni Agung mengaku temponya cenderung lebih cepat sebagaimana mereka tampil di panggung.

Sementara itu “Morning The World” menjadi rekaman pertama The Bodhi, band baru dengan personel wajah-wajah lama di kancah musik Balai. Ada 6 lagu dalam CD audio dan 6 lagyu dalam DVD yang mengambil pakem reggae roots sebagai akar dalam balutan fusion musik. Dengan demikian ada banyak ragam musik yang dimasukkan dalam komposisi roots reggae untuk lagu-lagu Seperti “Roots Rebel”, “Fly Away”, “Mr. Smiley”, “God Love is Free”, “Morning of The World”, dan “Mentari tak Bersinar Lagi”.

Langkah Pregina merilis dua rekaman berupa CD Audio dan video  sekaligus, tak pelak mengundang pertanyaan, apa yang mendorongnya “nekad” melakukan ini di tengah makin berkurangnya peredaran rekaman dalam bentuk fisik, pun keraguan akan masalah teknis dan bisnis saat ini? Kepada wartawan di Pregina Art Point, Sanur, Sabtu (11/2), Gus Mantra selaku produser tak memungkiri ada begitu banyak tantangan akan dunia rekaman saat ini menyangkut peluang pasar, pun sistem edar konvensional melalui toko kaset yang makin langka saat ini.

Namun ia menegaskan, dalam kondisi sulit tetap harus ada optimism. Di samping itu ia pun menilai, rekaman fisik tetap diperlukan sebagai satu dokumentasi. Persoalan apakah yakin akan kembali modal, untung atau tidak, ia hanya tersenyum. Jika diukur dari nilai rupiah, ia menjelaskan akan sulit. “Kalau hanya dihitung biaya produksi, biaya rekaman dan copy CD masih bisa dapat gambaran berapa budget. Tapi kalau sebagai satu karya, saya rasa tak ternilai. Karenanya bisa merampungkan dan mewujudkan karya ini saja sudah menjadi satu kebanggaan, yang secara materiil tak ternilai, sama halnya satu lukisan yang nilainya tak bisa diukur hanya dengan rupiah,” kilahnya.

Ditambahkan, keputusan untuk rekaman poortofolio band yang dilakukan secara live multitrack audio dan video, sebenarnya akan menjadi langkah yang efektif untuk band dapat melakukan pendataan, pengumpulan hasil karya serrta menawarkan ke pasar global dalam sebuah komitmen pergerakan seni yang berbasis distribusi digital dan tentunya tetap mengutamakan kualitas.

Untuk mendukung peredaran album joni Agung & Double T dan The Bodhi, Pregina juga mendistribusikannya ke lebih dari 40 digital store di seluruh dunia seperti melalui Itunes, Spotify, Deezer, Amazon music dan lainnya. “Jadi karya ereka dapat dibeli dan diundh secara professional berbayar. Untuk mereka dapat tetap eksis dan berkaya dan tampil di berbagai panggung baik di Bali, Indonesia bahkan di Negara lain,” harap Gus Mantra. (231)

Reggae 1

Bagus Mantra (baju putih) bersama band The Bodhi (sebelan kiri) dan Joni Agung & Double T (sebelah kanan)