Supersoda : Terlalu Sayang bila tak Dipertahankan

Supersoda

Band Supersoda

DILIHAT dari umur, band yang satu ini sebenarnya terbilang sudah cukup lama. Ya, tahun ini Supersoda sudah memasuki masa 10 tahun . Namun demikian aktivitas band ini justru terbilang sangat minim. Bahkan hanya pada kesempatan tertentu saja penikmat musik bisa “beruntung” menyaksikan band pop ini. Bukan karena tiada peminat, apalagi jika melihat single mereka “Kenari” yang diunggah ke soundcloud.com awal 2014 silam, sudahmemperoleh 22.7000 hits. Pun bila melihat para punggawanya, tiga musisi yang terbilang mumpuni di bidangnya, Windu (vokal, keyboard), David (bass), dan Gusdek (drum). Meski sempat “hibernasi” dua tahunan, semangat mereka tetap tinggi untuk menjaga agar Supersoda tetap ada. Kepada mybalimusic.com, Supersoda sempat melakukan telewawancara. Ada sejumlah catatan menarik bagaimana Supersoda merasa sayang kalau keberadaan mereka tak dipertahankan. Sebagian besar penjelasan disampaikan Windu, sesekali ditimpali Gusdek dan David.

Supersoda baru saja muncul lagi di panggung acara musik. Apakah 2017 akan jadi tahun kebangkitan Supersoda?

Tentu saja, sama seperti sebelumnya. Kami mensyukuri setiap kebangkitan-kebangkitan kecil yang kami capai. Meski kecil, namun berarti besar, karena harus diakui progress kami lambat, selalu ada kendala. Meski demikian kami selalu berusaha untuk tetap eksis.

Kendala yang dimaksud misalnya dalam hal apa?

Masing-masing dari kami mencari nafkah di band yang berbeda-beda. Karenanya pasti ada kendala komunikasi, meluangkan waktu untuk mengonsep materi lagu, misalnya. Di samping juga bahwa pertemanan kami mengalami fluktuasi, misalnya ada fase di mana kami tidak berkomunikasi sama sekali selama berbulan-bulan, misalnya. Tapi begitu kami bisa lewati itu, maka kami bisa lebih jujur, dan persaudaraan kita lebih hangat.

Lalu apa yg membuat kalian berpikir untuk tetap mempertahankan dan melanjutkan band ini?

Saya pribadi sih, kepingin jadi “musisi”. Main musik sudah cukup lama, dan syukurlah dipercaya untuk dilibatkan dalam karya band-band di Bali seperti Dialog Dini Hari, Nymphea, Navicula, dan lainnya. Namun demikian tetap ada yang kurang. Saya harus merealisasikan karya sendiri. Itu utang pada diri sendiri. Dan yang punya visi yang sama dalam hal ini, so far hanya Gusdek dan David. Di samping juga kami punya ritme kerja yang sama, karena satu profesi, manggung di kafe.

Kalau Supersoda harus tetap ada, karena kami kepengen punya karya sendiri di dunia musik. Selama ini kami manggung dari kefe ke kafe, restauran dan hotel-hotel di seputaran bali dengan membawakan lagu-lagu orang lain atau cover song. Jadi, terlalu sayang band Supersoda ini untuk tidak dipertahankan dan dilanjutkan. Karena kami yakin ke depan bisa lebih super lagi “soda”-nya.

Untuk saat ini rencana apa yang akan dilakukan Supersoda?

Rencana jangka pendek ya manggung-manggung. Selanjutnya, merampungkan EP (mini album-red.) yang saat ini dalam tahap mixing.

Yang jelas kami berusaha untuk tetap berkarya meskipun dalam keterbatasan. Iya, keterbatasan waktu, modal, dan kewajiban sebagai kepala keluarga, hahaha …..

Apakah ada yang berubah atau spesial dari Supersoda di tahun 2017 ini?

Sebagai tambahan, kami  akan dibantu oleh Dimas Natsir pada bass, dan Roy Antolin pada keyboard. Memang untuk materi mini album masih masih saya (Windu), Gusdek dan David. Dimas dan Roy akan dilibatkan untuk manggung, juga perjalanan SuperSoda ke depannya.

Format musik kami saat ini tanpa gitaris. Jadi garapan musik Supersoda kami orientasikan ke piano dan synthesizer. Itu yang sudah kami terapkan di rekaman minu album, dan itulah mengapa kami membutuhkan Roy sebagai keyboardist kedua. Kami berharap ke depannya bisa mendapatkan sponsor untuk merampungkan dan menyebarluaskan EP SuperSoda ini, yang saat ini masih dalam proses mixing dan mastering. (231)