Yes, Marco Kembali Lagi …

Marco

Grup band Marco

SEKITAR 8 tahun silam, blantika musik pop Bali sempat mencatat satu nama band baru di jalur pop rock, Marco. Meski ketika itu Marco terbilang nama baru, cukup berhasil menarik perhatian dengan lagu-lagunya seperti “Pedalem”. Sayangnya hanya satu album, seiring kesibukan masing-masing personel, grup ini pun pelan-pelan meredup. Nah, memasuki tahun 2017 ini, Marco kembali lagi dengan satu single baru, “Tresna Setonden Mati”. Inilah “pemanasan” dari Marco sebelum merilis album baru yang direncanakan Maret mendatang.

“Untuk materi album baru masih dalam proses rekaman. Saat ini kami isi dulu dengan single Tresna Setonden Mati,” jelas Komar, vokalis Marco kepada mybalimusic.com di Denpasar, Rabu (11/1).

Meskipun lama tidak muncul, dijelaskan tak ada yang berubah dari karakter musik Marco. Begitu pun perubahan formasi, di mana seluruh musisi pendukung baru bergabung, tak banyak mempengaruhi warna musik yang dimainkan. “Musik sama saja, kami memilih bermain yang simple. Bedanya mungkin hanya di isian gitar saja, kalau dulu gitar dimainkan Donnie lebih nge-rock, sekarang lebih mengedepankan harmoni,” tambah Komar.

Dulu ketika dicetuskan pertama kali dan saat merilis album “”, Marco didukung Komar (vokal, gitar), Donnie (gitar), Hendra (drum), dan Lelut (bass). Masing-masing sebelumnya sudah punya grup tersendiri. Komar bergabung di Blackened, Donnie main bersama Lolot, Hendra sedang membesarkan Gecko, dan Lelut selain kru Lolot juga punya grup Dadu. Jadi, Marco awalnya merupakan project sela. Namun ketika Lolot bangkit lagi, Gecko merintis karier di Ibukota, praktis Marco juga vakum. Maka untuk menghidupkan lagi band ini, sementara personel lama tengah sibuk pula, Komar mengajak tiga musisi lain bergabung. Adi Kusuma yang bermain gitar sebelumnya bergabung di band indie Something Like Crazy, Mank Marilyn yang membetot bass sebelumnya teknisi gitar di band Lolot, dan Ade Ananta sempat mendukung band indie The Rolic.

“Di single Tresna Setonden Mati, musiknya masih didukung oleh Donnie Lesmana. Untuk rekaman album baru yang masih dalam proses, baru kami melibatkan formasi baru,” jelas Komar.

Lagu “Tresna Setonden Mati” digarap Komar dan Ketut Slonog. Dalam perjalanannya lagu ini digubah lagi bersama dengan personil Marco baik secara lirik maupun aransemen menjadi seperti sekarang. Dalam proses pembuatan single ini Marco banyak didukung oleh teman-teman penggiat musik di Bali. Misalnya untuk studio rekaman dibantu oleh Donnie & Hendra, kemudian studio latihan yang sering dibantu oleh Iwan Rock.

Sedangkan video klip yang sudah diluncurkan sejak Desember silam, digarap sutradara Andy Duarsa. Konsep awal klip “Tresna Setonden Mati” awalnya hanya menampilkan personil band yang sedang memainkan lagu disebuah setting panggung dengan tata-cahaya. Tapi kemudian muncul ide dari Comar untuk melibatkan teman, keluarga dan penggemar untuk turut mendukung klip ini. Karena itu klip ini dibuat dua model, versi band dan versi “megelut”. Idenya adalah menampilkan potongan-potongan video yang menampilkan ekspresi cinta dengan berpelukan (megelut) dari sepasang kekasih, teman atau suami-istri. (231)