Tut Asmara : Makin Terkenal Makin “Sebet”

Asm1

Tut Asmara

JIKA ada yang meragukan eksistensi lagu pop Bali, atau mengatakan lagu pop Bali saat ini mati suri, tentu salah besar. Lagu pop Bali masih ada, rekaman juga tetap jalan, penggemar pun makin banyak. Selain itu tetap ada saja pendatang baru yang berkeinginan menjadi penyanyi dan rekaman. Namun jika melihat kondisi sulitnya pemasaran hasil rekaman secara fisik, pun terbatasnya kesempatan manggung serta lebih banyak acara kecil-kecil, tentu berat tantangan menjadi penyanyi lagu pop Bali saat ini.

“Jadi penyanyi lagu pop Bali sekarang sebetulnya makin terkenal makin sebet. Sekarang makin gampang nge-trend, dikenal, terutama melalui media sosial. Namun kalau berharap untuk dapat untung dari menyanyi saja, ya susah …” komentar Tut Asmara, penyanyi sekaligus produser Januadi Record kepada mybalimusic.com, Kamis (27/10).

Dituturkan, sulitnya penjualan rekaman lagu pop Bali secara fisik saat ini, baik berupa kaset, CD, VCD maupun DVD, tak urung membuat pihaknya mengurangi secara drastis aktivitas Januadi Record yang ia gawangi. Meskipun masih ada sejumlah materi rekaman yang sudah jadi dan siap untuk dilepas, terpaksa ditangguhkan dulu. Apalagi untuk memproduksi rekaman baru, atau menerima penyanyi pendatang baru yang masih berminat besar untuk bergabung dan dimanajeri.

“Kalau untuk bikin rekaman baru, pikir-pikir dulu deh. Kalaupun mau bikin, paling single, bukan album. Bukannya ngga berani ya, tapi kalau sekarang diproduksi, mau dipasarkan ke mana? Kami sebenarnya masih ada beberapa materi rekaman yang sudah jadi, tapi belum diproduksi, karena tempat untuk memasarkan yang sudah tak ada lagi,” ujarnya.

Sebelumnya, Januadi sempat bekerjasama dengan jaringan toko modern untuk titip edar produksi CD dan VCD mereka. Namun karena ada kebijakan perusahaan untuk mengurangi secara drastis bahkan kemudian menghentikan penjualan album rekaman, Januadi pun tak bisa berbuat apa. “Bukan hanya untuk lagu pop Bali, tapi seluruh penjualan rekaman termasuk rekaman nasional baik musik maupun film dihentikan, karena dianggap hasilnya tidak maksimal,” jelas Tut Asmara.

Diakui, sebetulnya masih ada peluang untuk langsung memasarkan VCD dan DVD melalui lapak-lapak di kaki lima atau pasar malam. Namun selain harga jual yang tak bisa terlalu tinggi, ia pun tak berani ambil risiko, karena hampir seluruh lapak minta “ngebon” terlebih dahulu. Kekhawatirannya, penagihan akan sulit, bahkan lebih celakanya bisa-bisa lapak yang dititipi kabur atau pindah entah kemana. Dikatakan, sebetulnya Januadi Record sudah menawarkan sistem semacam menaruh deposit uang jaminan, untuk mendapatkan sejumlah materi produksi . Namun kondisi ini agak sulit diikuti oleh pelapak di pasar malam.

Meski kondisi serba sulit, Tut Asmara menyatakan tidak mundur dari blantika musik pop Bali. Kecintaan akan lagu pop Bali yang sudah mendarah daging, tentunya sulit ditinggalkan begitu saja. Untuk saat ini, aktivitasnya bersama artis Januadi Record lebih banyak di pentas saja. Walau diakui, intensitasnya sangat jauh, tidak seramai dulu, dan pendapatannya juga tidak bisa setinggi yang sudah-sudah.

“Job manggung memang masih ada, tapi kita juga lihat-lihat. Sekarang kan job seperti main di panggung besar sudah tidak ada, paling tampil di acara-acara tertentu seperti di banjar, acara kantor. Kebanyakan ya pakai keyboard atau electone. Nah, untuk yang model seperti ini tentu dapatnya juga gak banyak, seperti misalnya ada undangan tampil di banjar, kan gak mungkin minta bayaran tinggi-tinggi,” pungkasnya sembari tersenyum. *231

Asm2