“Saatnya Berubah”, Album Rekaman Anak-anak Terali Besi

Ant2MENGIKIS stigma negatif terhadap warga binaan pemasyarakatan (WBP) atau dulu dikenal dengan istilah narapidana bukanlah hal mudah. Bahkan mereka yang masuk penjara, entah dengan latar belakang kasus apapun, acap kali dicap sebagai sampah masyarakat. Seakan ingin menepis berbagai pandangan miring terhadap WBP, grup band Antrabez terbentuk dan berkiprah dari balik terali di LP Kerobokan, Badung. Bukan sekadar bermusik, malah mereka telah merampungkan album rekaman yang diberi judul “Saatnya Berubah”. Album ini akan diperkenalkan dalam satu acara peluncuran di lapangan LP Kerobokan, 28 Oktober mendatang.

“Kami ingin menunjukkan kalau kami bukan sampah,” ujar Tantri, salah satu personel grup ini kepada awak media di aula LP Kerobokan, Rabu (26/10).

Mungkin bukan hanya masyarakat awam yang bertanya-tanya, bagaimana mungkin WRP bisa menghasilkan satu album rekaman, sementara mereka tengah menjalani masa tahanan. Bahkan personel band ini pun awalnya tak percaya kalau akhirnya mereka bisa rekaman. “Bisa diberi kesepatan ini seperti mimpi yang jadi kenyataan. Bagaimana ya… bagi saya sangat dalam rasanya,” komentar Octa, yang menciptakan 5 dari 6 lagu di album “Saatnya Berubah”.

Hal senada juga diungkapkan Rifa, gitaris grup ini. Baginya, kata-kata saja tidak cukup mengunglapkan perasaan yang ada. “Terharu pastinya, berawal dari genjrang genjreng, teriak-teriak, akhirnya bisa rekaman, syukur nanti bisa diterima di masyarakat,” ucapnya.

Lain lagi Febri, vokalis utama Antrabez, yang mengaku awalnya tidak percaya bisa mencicipi dapur rekaman dan memiliki karya sendiri. “Saya kira ini bohong, tidak munglim, kayaknya gak ada deh ceritanya seorang napi keluar penjara lalu masuk dapur rekaman. Tanpa dukungan Kalapas dan KPLP kayaknya ini tidak mungkin terjadi. Ternyata ini beneran, surprise, terharu banget,” demikian Febri,

Anom Darsana, pemilik studio musik Antida pun mengaku awalnya tak percaya ketika dihubungi untuk proses rekaman, kemudian berlanjut akan menggelar peluncuran album di hadapan warga binaan di dalam LP. “Ini sejarah. Saya pernah bikin pentas musik dengan panggung melayang, panggung di atas laut, baru kali ini saya akan bikin panggung di dalam LP. Saat personel Antrabez rekaman, saya dapat melihat dari raut wajah mereka, ada semangat yang berbeda, semangat ingin berkarya. Ini menunjukkan, musik tidak mengenal halangan atau batasan,” ujar pria yang biasa disapa Gung Anom ini.

Kesan serupa juga diungkapkan Eric Est. yang menggarap video klip lagu-lagu Antrabez. Ia mengatakan, dari sekian kali pengalaman menggarap video klip, inilah yang paling berkesan, menggarap video di dalam LP. Bahkan ia diberi keleluasaan untuk melakukan shoot di seluruh areal LP. Tak heran kalau Kalapas menyatakan, jika ingin tahu bagaimana keadaan di dalam LP Kerobokan, bisa melihat video klip Antrabez kelak.

Ant1

Kalapas Kerobokan bersama personel Antrabez dan pendukung album “Saatnya Berubah”

Begitulah, dukungan dan upaya dari Kalapas bersama staf memungkinkan delapan WBP yang tergabung dalam Antrabez – Febri, Tantri, Sila (vokal), Octa (gitar), Rifa (gitar), Micky (bass), Ronald (keyboard) dan Daus (drum) — berkesempatan diboyong ke studio musik Antida untuk rekaman.

“Tentu sudah melalui prosedur, saya juga sudah lapor ke pimpinan. Saya pun jelaskan, ini akan memakan waktu, tidak hanya satu dua jam. Namun saya percaya, dan tidak mungkin saya borgol, nanti bagaimana mereka main musik? Meskipun tidak diborgol, saya percaya WBP yang selama rekaman didampingi petugas ini tidak akan kabur, karena saya ‘ikat’ mereka dengan hati,” papar Slamet Prihantara, Kalapas Kerobokan.

Dijelaskan, munculnya grup Antrabez alias anak-anak terali besi, merupakan bagian dari pembinaan minat dan bakat melalui Sanggar Semeton di dalam LP Kerobokan. Meskipun mereka bermusik di dalam lapas, namun mengikuti perkembangan di luar tetap perlu. Sangat disadari kondisinya tentu berbeda dengan seniman di luar yang lebih punya waktu, berkesempatan luas untuk berkarya. Namun demikian dengan segala kekurangan, muncul tekad memaksimalkan talenta yang ada. “Kami berterima kasih dengan dukungan berbagai pihak seperti Antida Music, video oleh Eric Est. dan pihak lainnya. Harapan kami kepada WBP yang tergabung di Antrabez, pertama, kelak jangan sampai masuk lagi. Kedua, ketrampilan yang dibina di dalam LP bisa memberi penghidupan di masyarakat nanti. Ini tujuan akhir dari pembinaan,” tambah Slamet Prihantara.

Album “Saatnya Berubah”, untuk tahap awal diproduksi terbatas dalam format audio CD. Setelah acara peluncuran nanti, barulah akan diproses produksi jumlah yang lebih banyak, dalam format audio visual. Enam lagu bertema kehidupan dan rohani di album ini, “Syukuri Ujianmu”, ”Semua tak Berharap”, “Terimalah Taubat Ini”, “Ibu”, “Sudah Tiba Waktunya”, “Doa”, dan bonus track “Rainbow”. Keseluruhan proses penggarapan album ini memakan waktu sekitar 2,5 bulan. *231