Menjelang “World Culture Forum 2016″

WCF

Dirjen Kebudayaan Kemendikbud RI, Hilman Farid (tengah) memimpin rapat persiapan pelaksanaan World Culture Forum 2016

APA yang dapat diharapkan dari satu pertemuan tingkat dunia yang membahas masalah kebudayaan? Kiranya bukan sekadar menghasilkan piagam bersama, kesepakatan, rekomendasi, namun lebih dari itu bagaimana ada tindakan nyata terhadap beragam masalah kebudayaan yang terjadi di banyak belahan Negara. Termasuk salah satunya, penghancuran terhadap peninggalan budaya yang menjadi ancaman serius bagi pelestarian budaya dunia.

Pemikiran itulah yang mendasari World Culture Forum 2016 yang akan diselenggarakan di Bali Nusa Dua Convention Centre, 10-14 Oktober mendatang. Sekurangnya 14 negara menyatakan turut dalam pertemuan ini, melibatkan kalangan budayawan, akademisi, LSM, hingga pejabat perwakilan pemerintah, baik setingkat deputi hingga menteri kebudayaan Negara masing-masing. Tema yang diusung untuk pertemuan ini, “Culture For A Inclusive Sustainable Planet”.

“Ini merupakan kelanjutan dari World Culture Forum pertama yang digelar 2013. Kenapa diadakan di Bali, ya kalau mau bicara kebudayaan, paling tepat ya Bali, tanpa mengabaikan masalah kebudayaan yang juga terjadi di daerah lain,” ujar Hilman Farid, Dirjen Kebudayaan Kemendikbud RI kepada wartawan di Denpasar, Kamis (22/9).

Dijelaskan, forum akan dibagi ke dalam tiga pokok kegiatan yakni experiencing harmony (mengalami kembali harmoni), reconceptualizing cultural development (merumuskan kembali konsep pembangunan kebudayaan), dan rejoicing in culture (bagaimana kebudayaan membuat mereka yang mengalaminya bisa senang dan bergembira). Sejumlah agenda sudah disiapkan panitia mulai dari parade budaya yang akan diikuti Negara peserta, mengunjungi subak di Jatiluwih, kunjungan ke museum topeng dan wayang Setia Darma di Tegalbingin, Ubud, pertemuan tingkat menteri, hingga beragam simposium yang menghadirkan pembicara dari berbagai Negara. Dari Indonesia akan berbicara antara lain Din Syamsudin, Nyoman Nuarta, Ridwan Kamil (Walikota Bandung), Prof. Dr. Wayan P. Windia, S.H. (pakar subak).

Negara yang dipastikan turut dalam kegiatan ini, Fiji, Vietnam, Laos, Thailand, Jepang, Singapura, Brunei Darusalam, Malaysia, Timor Leste, Filipina, RRC, dan Tuvalu. Hingga saat ini panitia juga masih menunggu konfirmasi kehadiran sejumlah tokoh dunia yang akan menyampaikan gagasannya, antara lain Sekjen PBB Ban Ki Moon.

Di luar agenda utama di BNDCC, panitia juga menyiapkan dua kegiatan lain yakni cultural festival dan international youth forum. Untuk kegiatan ini, 160 pemuda (100 orang dari Indonesia dan 60 orang dari berbagai Negara berdasarkan rekomendasi Kedubes Negara masing-masing) akan disebar di empat desa di Bali, yakni Bongan (Tabanan), Penglipuran (Bangli), Tenganan (Karangasem) dan Bedulu (Gianyar) untuk berbaur dan berinteraksi dengan masyarakat. Dari pengalaman inilah diharapkan muncul gagasan yang dibawa ke dalam pertemuan puncak di BNDCC. Sebagai penutup rangkaian World Culture Forum, direncanakan satu pertuunjukan konser musik yang menampilkan musik klasik corak Indonesia, yang sedianya akan dilangsungkan di Lapangan Puputan Margarana, Renon. (*)