D’bonnar Cicil Materi Album ke-2

bonnar

D’bonnar

MENGHASILKAN karya sendiri, dengan usaha dan modal sendiri, kiranya bukanlah hal mudah. Setidaknya ini dirasakan D’bonnar, grup band pengusung lagu berbahasa Bali asal Karangasem. Untuk dapat merampungkan rekaman album ke-2, mereka harus sabar, mencicil materi album sedikit demi sedikit. menyelesaikan tahap demi tahap. Meskipun masih dalam proses dan belum mentargetkan kapan akan diluncurkan, namun grup ini sudah mulai memperkenalkan dua lagu yang akan ada di  album mereka nanti.

Dua lagu yang sudah selesai direkam dan mulai diperkenalkan mellaui radio-radio di Bali, “Tresna Muani Desa” dan “Widiadari Cara Sampi”. “Materi lain masih dalam proses rekaman. Jadi sambil jalan, kami mulai memperkenalkan karya baru kami,” jelas Sunarjaya, vokalis D’bonnar.

Dijelaskan, “Tresna Muani Desa” menceritakan pemuda desa yang mengamuki wanita kota. Karena ingin memiliki si dambaan hati, meskipun sedikit rendah diri,  ia tetap berjuang dan memberanikan diri merayu wanita kota pujaan hatinya. Sedangkan lagu  widiadari care sampi adalah lagu kucu tentang persahabatan dua pemuda, yang satu saat sama-sama tertarik dengan sosok yang dari belakang sangat seksi dan menggoda, namun setelah didekati ternyata adalah waria.

“Untuk saat ini dua lagu itu dulu yang kami share. Untuk yang lainnya biar nanti saja saat peluncuran album saja dijelaskan biar surprise,” kata Sunar.

Nama D’bonnar muncul sejak 10 Oktober 2011. Nama ini merupakan singkatan dari band nak Karangasem, yang di tengah nama ditambahkan huruf O, sebagai simbol sebuah lingkaran yang tiada putusnya, sebagai cerminan untuk semangat terus berkarya tiada henti. Hingga saat ini D’bonnar masih didukung formasi Sunarjaya (vokal, gitar), Wayan Sikiarta (gitar), Senged dep (bass), dan Kadek Udi (drum).

Selain sudah cukup sering mengisi acara di sejumlah tempat di berbagai daerah di Bali, D’bonnar juga sudah memiliki rekaman sendiri “Album untuk Selamanya” yang dirilis 2013. Sejumlah lagu yang ada di album ini seperti “Pedidian”, “Ulian Rerama”, “Tanggung jawab”, “Kanti Riwakasan”, dan “Takut Kehilangan”. (231)