Berani Maju, Siap Gagal

De Pengkung : Dari Lagu Bali “Nyeberang” ke Politik

LAMA tak terdengar kiprahnya di blantika musik pop Bali, pelan-pelan belakangan nama De Pengkung mulai muncul lagi ke permukaan. Kali ini bukan untuk menembangkan lagu berbahasa Bali. Menggunakan nama aslinya, Made Senjaya, ia muncul di bidang lain, panggung politik.

Ya, Made Senjaya kini tengah mempersiapkan diri untuk maju sebagai calon anggota dewan melalui patai Gerindra. Namanya tercatat pada daftar calon sementara DPRD Bali dari daerah pemilihan Bali 9 (Gianyar). Sejauh mana kesiapannya untuk berkiprah di bidang politik? “Saya berani maju dan saya siap gagal,” ujarnya.

Made Senjaya alias De Pengkung

Made Senjaya alias De Pengkung

Ketika ditanya bagaimana bisa beralih dari jalur seni dan pariwisata (sebelumnya Made Senjaya lama bekerja di hotel di kawasan Tanjung Benoa) ke jalur politik, ia hanya menjawab singkat. “Intinya, saya ingin mencoba lebih memperjuangkan pariwisata yg berbasis pada seni dan budaya,” tukasnya.

Memang setelah lama tidak menyanyi dan rekaman, De Pengkung mengakui ada rasa kangen untuk rekaman lagi. Namun di tengah aktivitasnya sekarang, terlebih produser rekaman sudah banyak yang gulung tikar, De Pengkung tidak terlalu berambisi untuk tampil menyanyi lagi. Kalau toh kangen ingin menyanyi, sesekali ia menyalurkannya dengan karaoke. Ia tidak mengelak walaupun sudah berlalu cukup lama, hingga saat ini masih banyak yang ingat dan suka lagunya terutama “Negak di Bucun Desa” dan “Medamar Di Abing”. Malah kerap pula diputar di tempat hiburan dan menjadi tembang kenangan di radio.

Menengok jejak perjalanan De Pengkung, mungkin bisa dibilang, inilah penyanyi lagu pop Bali pertama yang muncul dari keturunan Tionghoa. Berasal dari Blahbatuh, Gianyar, De Pengkung mengawali aktivitasnya dengan menjadi penyiar di radio Gema Merdeka, yang di awal tahun 80-an masih berlokasi di Gianyar. Saat menjadi penyiar itulah, ia kerap bertemu dan ngobrol dengan Tut Bimbo, yang sudah lebih dulu menjadi penyanyi lagu Bali.

Dari perkenalannya itu, tak hanya sering kumpul, mereka pun kerap iseng-iseng main gitar, lalu magendingan, iseng-iseng buat lagu Bali. Ketika ada waktu senggang saat siaran malam, De Pengkung malah pernah live membawakan lagu pop Bali ciptaan sendiri, diiringi petikan gitar bolong. Ternyata nyanyian live itu didengar Ricky Yulianto, produser Bali Record (dulunya Bali Stereo). De Pengkung pun kemudian dicari dan ditawari untuk rekaman. Muncullah kemudian ia di album keroyokan, dengan membawakan lagu “Bulu Melingker” (1985). Setelah lagu itu cukup diterima, ia pun ditawari rekaman tunggal. Setahun berproses, rampung album pertama berjudul “Pengkung Brandal” yang melejitkan hit “Negak di Bucun Desa”.

“Kalau diingat-ingat prosesnya cukup berat. Karena waktu itu teknologi rekaman belum secanggih sekarang. Siang malam saya ada di studio untuk menggarap satu album, dan kalau dihitung proses album pertama itu hampir mencapai 9 bulan,” kenangnya.

Seperti trend album berseri waktu itu, De Pengkung pun beruntun merilis album yang memakai judulnya namanya sendiri, yakni “Pengkung Bingung”, “Pengkung Inguh”. Walaupun kemudian menjadi tenar dan mulai sering manggung, ia tak pernah terlalu berpikir masalah honor. Apalagi sering juga manggung secara sukarela misalnya untuk amal. Jaman itu, sekali manggung ia dibayar antara Rp 5.000 sampai Rp 15.000.

“Ya, memang sempat keliling ke berbagai daerah, ya pernahlah merasakan jadi idola. Tapi waktu itu memang tak pernah berpikir mengejar materi, paling kita ingin memperkenalkan ke masyarakat, ini ada lagu baru. Jadi kami berbuat murni untuk seni. Paling kebanggaannya, masyarakat pernah tahu ada penyanyi yang namanya De Pengkung,” tuturnya.

Sempat nge-band

Banyak suka-duka yang dirasakan De Pengkung di awal-awal pemunculannya sebagai penyanyi pop Bali. Untuk mengiringi tampil di panggung misalnya, ia sempat membentuk Maruti Band. Pengalaman menarik yang tak pernah dilupakan misalnya kerap saat tampil dapat “hadiah” plastik bungkus es dari penonton, lantaran permainan musiknya tidak bagus atau acak-acakan. Ya, maklum saja, karena saat itu semuanya baru mulai mencoba dan masih belajar. Menjadi satu tantangan pulanya, bagaimana membuat lagu pop Bali yang dulunya tidak begitu dikenal, menjadi lebih dikenal lagi dan diterima masyarakat luas.

Dari lagu pop Bali pula, De Pengkung sempat dikontrak untuk menggarap jingle Kopi Bali cap Kupu-kupu Bola Dunia, yang masih digunakan hingga kini. Selain hit “Negak di Bucun Desa”, De Pengkung juga mencetak sukses lewat lagu “Medamar di Abing” dari album grup Luntang Lantung yang dirilis akhir 90-an. Ini menjadi lagu pop Bali yang pertama memasukkan genjek secara live. Lagu ini menjadi lebih booming dari “Negak di Bucun Desa” salah satunya karena peran media yang sudah makin banyak, seperti makin banyaknya radio juga mulai munculnya televisi swasta.

Menurut pria 48 tahun ini, lagu-lagu yang ia ciptakan kebanyakan berdasarkan pengalaman pribadi. Ini pula yang menjadikan lagunya lebih gampang dibawakan dan dihayati, selain juga terkesan lebih natural. Meskipun kini jarang muncul di publik dan lebih konsen ke pekerjaannya, De Pengkung mengaku tetap ada minat berkecimpung di musik. Ia pun sangat rindu untuk bisa tampil lagi bersama dengan rekan-rekan penyanyi pop Bali seperti dulu. Di blantika rekaman lagu pop Bali, awal 2000-an, De Pengkung sempat menggandeng penyanyi pendatang baru dan membuatkan rekaman dengan nama Kenanga Grup, yang sudah menghasilkan dua album. *adn