Ingin Bermain Musik dengan Jujur

RIWIN

RIWIN

DI antara begitu banyak musisi Bali khususnya pemain gitar, nama Riwin boleh dibilang sudah dianggap sebagai salah satu “senior” yang disegani. Bisa dimaklumi, sudah hampir 40 tahun ia bermain gitar. Mulai dari nge-band bersama dua saudaranya saat masih remaja, hingga di tahun 1976 bergabung dengan salah satu grup band kenamaan Indonesia saat itu, Pahama.

 Selepas dari Pahama, pria yang sempat menempuh kuliah di bidang biologi ini kemudian banyak mengisi pertunjukan musik di tempat hiburan di Denpasar, Sanur, Kuta dan sekitarnya, termasuk salah satu tempat “legendaris” di Kuta dulu, Kayu Api. Tahun 1990, Riwin membentuk grup Tropical Transit, yang tak hanya mengisi berbagai acara di Bali namun juga sejumlah even bergengsi seperti Java Jazz Festival, hingga sempat pula melanglang buana.

 Setelah sekian lama bermusik, baru di tahun 2010 lalu, pria bernama asli Ketut Riwiyana ini akhirnya merilis rekaman sendiri. Albumnya yang diberi judul “My Sexy Life” dikemas dalam bentuk CD yang memuat tujuh lagu seperti “Sanur”, “Gado-gado”, “Melayang”, “Breakfast”, “Jazz Loop”, dan “Raga”. Berbicara tengan album, juga perjalanan bermusiknya selama ini, Bali Music Magazine sempat berbincang-bincang dengan pria yang dalam beberapa tahun terakhir juga melakoni aktivitas sebagaipemangku ini.

Ini pertanyaan usil, Anda sudah 30 tahun lebih bermusik, kenapa baru sekarang terpikir membuat album sendiri?

Ya karena baru sekarang kesampaian, he he he ….. Dari dulu saya selalu ada ide. Kadang ide muncul, saya langsung bikin lagunya. Ya cuma bikin saja, nggak dikeluarin. Nggak terpikir lagu ini nanti mau dijadikan apa. Ya bisa jadi ini karena kesibukan main, cari nafkah di musik, jadi nggak berpikir untuk harus rekaman dan sebagainya. Kalau ada yang bilang banyak musisi kafe atau istilahnya mereka yang sudah sibuk ngamen jadi lupa berkreasi sendiri, ya bisa juga dibilang seperti itu. Walaupun niat untuk berkarya sebenarnya tetap ada.

Apa yang membuat Anda bersemangat merampungkan album ini?

Yang membesarkan semangat saya jelas, dukungan dari teman-teman. Saya bikin lagu kemudian diperdengarkan, ternyata banyak yang suka dan mendorong saya untuk merekamnya. Begitu ada kesempatan, ya saya bikin saja. Saya berpikirnya sederhana saja, saya ingin membuat lagu kemudian direkam. Perkara apakah kemudian orang menilai karya saya bagus atau jelek, saya nggak terlalu memikirkan. Inilah karya saya.

Tapi kenapa harus menunggu lama?

Ya memang cukup lama juga, karena kalau saya menggarap musik, kadang-kadang merasa cocok, kadang tidak. Karena nantinya karya ini akan didengar orang lain, saya mencoba memilih biar benar-benar bisa dipertanggungjawabkan. Nah, itu lama juga prosesnya. Apapun kemudian komentar orang, setidaknya saya pribadi bisa mempertanggungjawabkan, bahwa inilah saya. Sama seperti halnya kalau saya bermain, ya saya main saja apa yang keluar dari dalam diri saya. Musik itu kan jujur?

Sebenarnya apa yang ingin Anda capai dari rilis album di usia yang mungkin bagi sebagian musisi lain sudah tak ada keinginan untuk rekaman?

Jujur saja saya ingin menembus dunia dengan karya saya, dan rekaman ini menjadi pembuka jalan. Apalagi setelah lagunya beredar melalui internet, banyak komentar dari seluruh dunia yang membuat saya berpikir ternyata apa yang saya bikin tidak jelek-jelek amat, he he he ….. Terus terang komentar mereka yang sudah mendengarkan karya saya melalui internet, membuat saya berbesar hati. Walaupun musik saya simpel, mereka bisa mengapresiasi, mereka bisa menghargai dengan baik.

Kenapa Anda memilih judul “My Sexy Life”?

Saya pikir apa yang saya tuangkan melalui lagu dalam rekaman ini mewakili sebagian perjalanan hodup saya. Kalau dipikir-pikir, semua dalam kehidupan ini “seksi”. Musik juga “seksi”. Ya inilah kehidupan saya ….

Soal keputusan untuk membuat rekaman yang lebih dominan instrumental?

Bagi saya memainkan intrumental, tanpa lirik atau kata-kata, ada keuntungannya juga. Lagu tanpa lirik, siapapun bisa menikmati tanpa batasan golongan atau suku bangsa misalnya. Kalau ada liriknya, mungkin ada orang asing yang tak paham, kita musti menjelaskan lagi maknanya.

(Riwin mulai menyukai musik sejak masih anak-anak. Saat duduk di bangku SMP ia sudah mulai bermusik. Gitar memang menjadi pilihannya sejak awal, walau semula baru bisa bermain sedikit saja. Perkenalannya dengan seorang bule hippies dari London di pantai, membuka lebih luas wawasannya soal musik. Bule itu malah memperkenalkan Riwin pada musik flamenco, yang menjadi dasarnya bermain gitar. Hingga ia pun kemudian mencoba menyerap dan mempelajari jenis musik apa saja.).

Di kalangan musisi Bali, Anda sudah dianggap sebagai senior, jagonya gitar. Apa pandangan Anda?

Buat saya, biar masyarakat yang menilai, saya jalani saja apa yang ingin saya lakukan. Saya memang sering juga berkomunikasi dengan musisi muda. Kalau saya ketemu musisi baru, mereka mainnya memang bagus, saya support. Malah tak jarang saya hampiri dan saya berikan dorongan semangat, kamu bagus!

Bagaimana Anda melihat potensi musisi muda di Bali saat ini?

Luar biasa. Saya pikir berani adu dengan musisi dari luar, nggak kalah kok. Saya rasa ini juga karena peran dari bermunculannya sekolah musik, studio musik yang kian menjamur, dan banyak anak-anak sekarang yang ingin bermain musik.

Anda sendiri lebih senang main musik sendiri atau dengan band?

Saya menikmati kedua-duanya. Bedanya kalau main sendiri, saya hanya bisa menikmati sendiri. Kalau main sama band kan lain, ada usaha kebersamaan.

Anda lebih suka main gitar akustik atau elektrik?

Dua-duanya saya suka. Cuma belakangan saya lebih intens memainkan gitar akustik. Main gitar akustik lebih susah karena suaranya murni, tantangannya juga beda. Kalau main gitar elektrik kadang bisa kita siasati dengan efek, kalau gitar akustik lebih jujur. ***