Dahsyat, Pentas Musik Reggae di Bawah Guyuran Hujan

Star1

Joni Agung & Double T., semangat tak terhalang hujan

GELARAN Bali Reggae Star Festival 2016 telah usai. Sabtu 27 Februari lalu, pentas musik reggae terbesar di Bali (mungkin juga di Indonesia?) ini tuntas dihelat di tepi pantai Padanggalak, Denpasar. Acara yang menjadi sangat menarik, bukan hanya karena ini konser amal dengan misi peduli lingkungan, bukan karena deretan pengisi acara yang pantas diacungi jempol, juga bukan karena penonton yang datang dari berbagai daerah hingga wisatawan mancanegara, tapi karena separuh waktu acara digelar di tengah guyuran hujan deras.

Iya, cuaca yang kurang bersahabat malam itu memang sempat membuat ketar-ketir penonton, pengisi acara, juga panitia tentunya. Rintik hujan yang mulai turun sekitar pk. 19.30 wita saat Jack Pilpil dari Filipina naik panggung, tak kunjung berhenti bahkan makin deras saat giliran Marapu feat. Conkarah giliran mengisi acara. Apakah penonton buyar? Apakah panitia memutuskan untuk menghentikan acara? Ah, tampaknya meskipun hujan, acara terus berlanjut.

Begitulah, dengan menutup sebagian perlengkapan sound system, menggunakan lighting sekadarnya, musik reggae terus menggoyang penonton. Menggoyang penonton? Iya. Meskipun hujan cukup deras, hanya sebagian saja yang “menyingkir” dengan berteduh di warung-warung dan tenda di sekitar tempat acara. Sisanya, tetap berkumpul di depan panggung, mulai dari yang memakai payung, mengenakan jas hujan, hingga bertelanjang dada.

Amazing …. Goyang rasta di bawah hujan menjadi pemandangan yang “mengharukan” malam itu. Tak heran kalau panitia tetap bersemangat meneruskan acara, dan pengisi acara  semangat untuk tetap tampil meski tak sedikit penonton merangsek ke bibir panggung bahkan hingga naik mendekati pemain. Hingga Joni Agung & Double T dan pamungkas Tony Q Rastafara naik panggung, masih bertemankan hujan.

Apa komentar Gung Anom dari Antida Music sebagai salah satu penggagas acara? “Menurut saya musik reggae mempunyai dinamika yang sangat berbeda dengan musik lain. Ini bukan hanya semangat publik dari komunitas vespa tapi anak anak muda lain juga sangat antusias. Jadi biarpun diguyur hujan sangat deras mereka  tetap berdansa ria. Ini gak ada di event lain yang pernah saya lihat,” ujarnya.

Apa yang dikatakan Gung Anom tak berlebihan. Kebanyakan event lain jika hujan sedikit saja sudah pasti buyar. Berbeda dengan Bali Reggae Star Festival 2016 yang masih menyisakan nyaris seluruh penonton ketika hujan berlangsung. ”Ini membuat saya sangat bangga, biarpun hujan sangat mengurangi income kami di penjualan di segala sisi baik tiket, merchandise ” booth tenant, dan lainnya,  tapi pertunjukan musik reggae di Bali sangat dahsyat. Seandainya tidak hujan saya yakin audio visual yang kami kita tata bersama akan sangat sangat bagus, dan 10 ribu  penonton sangat gampang  tercapai.  Hormat saya yang sedalamnya buat semua yang sudah mendukung acara ini. Saya yakin festival ini akan besar untuk ke depannya,” harap Gung Anom.

Bali Reggae Star Festival 2016 dimulai sejak siang hari dipandu lawakan Rare Kual, dan menjelang malam dipandu duet MC Jun Bintang dan Dennisha. Musisi reggae yang ambul bagian di acara kali ini di antaranya barisan Bali Reggaeneration yang terdiri dari “angkatan baru” band pengusung musik reggae dari Bali, mulai dari  Malibu Stone, Selow Project, De’Roots, The Guntur, Vermilion, Revelation, D’Sunshine, Andreggae, The Small Axe, Nath The Lions, termasuk Djembe Island, dari Lombok. Selain itu tampil pula Monkey Boots dari Jakarta, Jeck Pilpil (Filipina), Marapu feat. Conkarah, hingga band reggae lokal yang disegani Bali, Joni Agung & Double T dan Tony Q Rastafara. *231

Star5

Jack Pilpil, reggae dari Philipina

Star 4

Hingga pengujung acara, tetap setia bergoyang di bawah guyuran hujan

star3