Musisi Reggae Bangkit dan Berkarya, tak Hanya “Ngamen”

reggae

Joni Agung & Double T di acara Bali Reggae Star Festival 2015 lalu

HINGGA saat ini, reggae masih sering dikatakan sebagai musik komunitas. Penggemarnya ada dan cukup banyak, meskipun tidak setenar musik mainstream lainnya. Musik reggae tidak pernah booming namun juga tidak ada matinya. Hal ini pun diakui para musisi reggae, seperti Denny, vokalis Monkey Boots dari Jakarta. Menurutnya, musik reggae itu selalu ada walaupun kesannya flat, tidak terlalu melejit juga tidak turun tajam.

Bagaimana dengan Indonesia secara khusus? Musik reggae sejatinya juga sudah cukup lama dikenal di Indonesia, misalnya saja di tahun 80-an ada beberapa penyanyi yang merilis album reggae seperti Nola Tilaar. Memasuki 90-an, musik reggae memang sempat ramai, mengikuti trend hits mancanegara yang memunculkan grup semisal UB40, Big Mountain, Inner Circle, dan lainnya. Di luar music reggae sebagai bagian dari industri rekaman, ketika itu Bali sempat disebut-sebut sebagai barometer music reggae di Indonesia. Salah satunya dengan keberadaan grup band The Legend, yang mengisi pentas music secara regular di Baruna Café. Pun, diselenggarakannya ajang kompetisi musik reggae secara rutin waktu itu menjadikan musik reggae dekat cukup familiar dengan penikmat music di pulau dewata.

Benar adanya, hingga saat ini music reggae tetap hidup di Bali. Bahkan musik reggae juga sempat dibuat lebih memasyarakat ketika merambah rekaman lagu berbahasa Bali. Tak terkecuali grup seperti Legend, Fredy, hingga Joni Agung & Double T sempat merilis album reggae berbahasa Bali. “Memang kalau dilihat dari penjualan album rekaman secara fisik saat ini mengalami penurunan secara drastis, termasuk juga untuk lagu reggae, namun tak bisa pula dikatakan musik reggae drop sama sekali,” ujar Bagus Mantra dari Pregina Studio, yang menaungi rekaman Joni Agung & Double T.

Dikatakan, musisi reggae di Bali tetap aktif, bahkan bisa dikatakan musik reggae di Bali bangkit dan musisinya tetap berkarya, tidak hanya “ngamen” atau manggung saja. Musisi reggae di Bali tetap berusaha menghasilkan karya sendiri. “Yang menarik, reggae memang musik dari luar, kental dengan nuansa Jamaica, tapi yang kita ambil adalah semangat dari musik itu sendiri. Bagaimana reggae berbicara masalah social, cinta, dan perdamaian,” tambah Bagus Mantra.

Karenanya, sejumlah event musik reggae yang digelar di Bali belakangan mendapatkan sambutan yang cukup bagus. Bahkan Bali Reggae Star Festival yang tahun ini masuk gelaran kedua, diharapkan bisa menjadi aktualisasi semangat musisi reggae untuk terus berkarya dan terus menggemakan pesan-pesan social dan kemanusiaan. “Bali Reggae Star Festival menjadi event charity sekaligus menggemakan pesan peduli lingkungan, seperti peduli masalah sampah. Di sinilah semangat kebersamaan para musisi muncuk. Begitu pun bagi penonton, tidak hanya menikmati pertunjukan dan lagu, namun juga ada pesan yang tersampaikan untuk mendukung konservasi lingkungan,” demikian Bagus Mantra.

Bali Reggae Star Festival 2016 akan digelar di pantai Padanggalak, Denpasar, 27 Februari nanti. Mengingat banyaknya musisi yang tampil, hampir 20 grup baik dari Bali, nasional, hingga musisi asing, acara akan dimulai lebih awal, pukul 14.00 wita, hingga tuntas menjelang tengah malam. Musisi reggae yang sudah sudah siap meramaikan acara  di antaranya barisan Bali Reggaeneration yang terdiri dari “angkatan baru” band pengusung musik reggae dari Bali, mulai dari  Malibu Stone, Selow Project, De’Roots, The Guntur, Vermilion, Revelation, D’Sunshine, Andreggae, The Small Axe, Nath The Lions, termasuk Djembe Island, dari Lombok. Selain itu tampil pula Monkey Boots dari Jakarta, Jeck Pilpil (Filipina), Marapu feat. Conkarah, hingga band reggae lokal yang disegani Bali, Joni Agung & Double T dan Tony Q Rastafara. *231

regg