TS tak Ingin yang Begitu-begitu Saja

TS1
Grup band lagu berbahasa Bali, TS (tigasatoe)

INGIN berkarya, tapi tak mau karyanya begitu-begitu saja, tak ingin hanya menambah panjang deretan band yang segitu-segitu juga. Inilah TS (tigasatoe), grup band lagu berbahasa Bali yang baru saja meluncurkan album keduanya yang berjudul “Bali Alternative Resolution”. Soal ingin menjadikan grup ini sebagai band yang berbeda, dituturkan personel TS kepada awak media di Sanur, Kamis (18/2).

“Ya … mungkin banyak komentar band lagu pop Bali karakternya mirip-mirip atau bahkan sama saja, mainnya ya di situ-situ juga. Pola lagunya juga sama. Nah, karena itulah kami mencoba berpikir untuk mencoba menampilkan sesuatu yang beda, yang membuat TS lain dari grup band lagu Bali lainnya. Kami coba mengemas musik TS lebih ke alternatif, biar tidak sama seperti band lain,” jelas Anom, lead guitar grup ini.

Yang paling mencolok, jelas Anom, adalah menampilkan komposisi musik yang berbeda pada lagu-lagu karya TS. Misalnya saja dengan  memasukkan overture, mengubah ketukan tempo. Untuk itu mereka juga menjadikan grup band luar kenamaan semacam Coldplay atau Alter Bridge sebagai referensi dalam menggarap musik. Begitu pula TS tetap menyebut musik yang mereka mainkan masih kental dengan nuansa rock alternative, meskipun beragam latar belakang ketertarikan musik dari masing-masing personel tetap diakomodir.

Soal tema lagu, TS tidak memungkiri masih lebih banyak mengeksplorasi tema cinta. Tak heran jika dari 10 lagu yang ada di album baru mereka, hanya satu lagu yang bertemakan alam, selebihnya urusan asmara. Sesungguhnya enam lagu yang mereka tampilkan adalah materi dari album pertama “Bali Cemburu” yang dirilis 2013, namun album itu sendiri hanya beredar secara terbatas. Wajar jika mendapat kesempatan membuat rekaman baru, enam lagu pun digarap ulang. Jadilah lagu-lagu seperti “Bali Cemburu”,  “Bedik Memaksa”, “Bedik Kabebasang”, “Hujan”, “Hidup Tanpa Adi”, “Tresna Melayang”, “Garansi Tresna”, “Ngidamang Tresna Sujati (NTS)”, “Jalur Buleleng”, dan “Panes Gumi”.

Menurut Wayan Cetu yang menangani manajemen band TS, album “Bali Alternative Resolution” sengaja tidak diedarkan untuk dijual dalam bentuk rekaman fisik. Bagi mereka yang berminat dapat membeli lagu grup ini secara digital/online. Namun begitu TS juga akan menyedikan rekaman MP3 lagu-lagu mereka untuk dibagikan pada kesempatan grup ini tampil atau manggung. “Yang jelas kami memahami untuk jualan album sekarang ini memang sulit, karenanya kami pun tidak terlalu memikirkan pendapatan dari jualan rekaman,” ujar Cetu.

TS band mulai dibentuk sejak 2013. Nama “31” dipilih sebagai cerminan dari kondisi grup ini saat itu, didukung tiga personel saja. Sehingga tiga jiwa dengan tiga pemikiran, berkumpul menjadi satu. Kesempatan tampil di berbagai acara mereka gunakan sebagai ajang memantapkan eksistensi di music. Hingga akhir 2014 TS memasukkan dua personel baru. Jadilah grup ini didukung personel Jess (vokal), Anom (lead guitar), Yanca (bass), Yoga (gitar), dan Galih Magharta (drum). Meskipun kini didukung lima pemain, mereka sepajat untuk tetap menggunakan nama TS (tigasatoe). *231

TS2
TS band bersama manajer, Wayan Cetu

About the author