“Syalala” Yon Gondrong OMBI Diminta Band Malaysia

Yon2

Yon Gondrong

MESKIPUN sangat gemar dan mencintai musik, kesempatan untuk lebih mengembangkan karier melalui Ibukota kiranya tak begitu menggoda bagi Yon Gondrong. Musisi yang dikenal sebagai One Man Band Indonesia (OMBI) dari Bali ini sesungguhnya banyak mendapat tawaran untuk berkarier di Jakarta. Terlebih sejak ia ikut ajang kompetisi Indonesia Got Talent dan Asia Got Talent. Tak hanya itu, bahkan saat ini salah satu lagunya, yang berjudul “Syalalala” diminta grup band dari Malaysia yang cukup punya nama, dan sudah ada deal. Tentu saja ia senang, namun tetap tak terpikir untuk hijrah ke Jakarta hanya demi musik.

“Beberapa EO memang nawarin saya untuk pindah ke Jakarta, tapi saya belum tertarik karena belum ada kontrak yang jelas. apa lagi harus mengikuti kemauan manajemen mereka, nantinya OMBI akan dikemas begini begitu,” cerita Yon Gondrong kepada mybalimusic.com.

Sekalipun nanti ada kejelasan mengenai kesempatan berkarier di Ibukota, Yon juga belum berani menyatakan sikap apakah memilih karier di musik dan meninggalkan pekerjaan utamanya di Bali sebagai gardener. Dengan jelas pria ramah ini mengatakan tak mau berspekulasi meninggalkan pekerjaan yang selama ini sudah menghidupi keluarganya.

“Ya kalau berhasil? Kalau tidak, malah kasihan anak-anak. Saya takut berspekulasi mungkin karena karena sudah tidak muda lagi, hehehehe… Jadi biarkan mengalir saja dan tetap berkarya semampunya,” kilahnya sembari bergurau.

Pria asal Malang yang sudah 20 tahun lebih bermukim di Bali ini, belakangan kerap diundang sebagai bintang tamu berbagai program televise nasional ini pun memaparkan, dari pengalamannya membaca, berkarier di keartisan itu risikonya tinggi sekali. Karena itulah ia pun tak mau aji mumpung. Niatnya ingin berkarya di mana saja, laku atau tidak laku, dan ia tetap memilih gardener sebagai pekerjaan.

Musisi yang banyak mendapat pujian karena cara bermusiknya yang terbilang khas dan sangat jarang di dunia ini pun mengemukakan keinginannya, kika bisa merubah paradigma bahwa artis yang hebat itu harus dari atau tinggal di Jakarta. “Saya prihatin ketika diundang ke daerah, mereka lebih bangga menyebut diri sebagai artis Ibukota. Saya sendiri sudah cukup bangga dengan pencapaian saat ini, karya saya banyak yang mengapresiasi, walaupun secara finansial belum ada kontribusi ke dapur,” tambah pria kelahiran 1969 ini.

Jika suatu hari nanti ada anak bangsa yang sukses dalam kariernya di musik karena terinspirasi OMBI, bagi Yon itu sudah sangat membanggakan baginya. Terlebih melihat perkembangan saat ini, untuk memperkenalkan karya sudah banyak kemudahan. OMBI sendiri hanya mengandalkan sosmed, terutama FB. Untuk menjaga hubungan dengan teman-teman di FB, Yon mengusahakan untuk selalu membalas komen dan sesekali komen di wall teman-temannya di FB.

Yon Gondrong yang memang memiliki keahlian di bidang landscaping sudah tertarik dengan music sejak remaja. Konsep One Man Band baru mulai dilakoninya sejak 2007 dengan mulai coba merakit bass drum hi head saja, kemudian terus ditambah dengan instrument lainnya hingga sekarang ia bisa memainkan 12 alat secara bersama, walaupun menurutnya belum sempurna. Keinginannya adalah menanamkan cara berkesenian sederhana tapi berkelas, dengan tidak harus mewajibkan peralatan mahal dan panggung mewah. Ini mengacu pada anak-anak muda bahkan juga dua anaknya sendiri yang juga menggeluti music, bahwa harus punya alat-alat yang mahal untuk bemusik walau toh belum tentu juga menjadi musisi. Satu prinsip yang masih kuat dipegang Yon saat ini adalah bermusik tidak melulu hanya untuk mengejar materi atau uang, tetapi juga untuk social. Karena itulah, sekalipun ada beberapa tempat hiburan dan cafe bar yang meminta untuk bermain regular, Yon mengaku belum siap karena tetap prinsip awalnya adalah bermusik untuk sosial.

Soal prinsip itu pula, Yon pernah punya pengalaman sangat berkesan yang tak terlupakan. “Setiap acara sosial saya merasa berdosa jika menerima amplop, hehehe… Ada kejadian yang tak bisa saya lupakan saat diundang mengisi acara panti jompo oleh seseorang di Jakarta. Ketika ditanya budget, saya langsung bilang gratis se-transport-nya, karena kebetulan saat itu saya sedang ada acara di Jakarta juga. Begitu tiba hari H, betapa kagetnya, ternyata saya mengisi acara untuk kaum jompo di kediaman Wismoyo Arismunandar (mantan KASAD) dan menghibur 50-an jenderal purnawirawan yang usianya sudah 70 tahun ke atas,” kenang Yon.

Apakah menyesal karena tak menyebutkan budget dan malah menggratiskan penampilan? Yon tegas mengatakan tidak menyesal. Karena ternyata selesai acara, tetap ada juga akhirnya pemberian dari panitia. *231