“Anggis Devaki” : Beda Warna, Sarat Nuansa Sosial Budaya

Ang2

Anggis Devaki

LAGU apa yang cocok dibawakan penyanyi belia yang baru beranjak remaja? Lagu yang masih kekanak-kanakan, lagu cinta monyet, atau lagu pop kebanyakan yang hanya memikirkan sisi komersil seperti yang ada saat ini? Mungkin itu pemikiran yang terlintas saat ada penyanyi remaja yang mencoba merilis album rekaman.

Berbalik dari pemikiran itu, Anggis Devaki, penyanyi ABG yang baru pertama kali merilis album rekaman solo berjudul  namanya sendiri (self titled) “Anggis Devaki”. Meskipun terbilang penyanyi yang baru mulai beranjak remaja, dara yang masih duduk di kelas II SMP ini justru memilih lagu yang tak hanya terbilang sulit dalam menyanyikannya, namun juga menggunakan iringan orkestra. Rekaman pertamanya juga sarat dengan teman sosial budaya atau lebih tepatnya banyak mengangkat tema adat dan budaya Bali. Karenanya ada kesan warna yang berbeda dari album dalam format DVD ini.

Hal tersebut terungkap saat Anggis memperkenalkan album rekamannya di hadapan wartawan di Denpasar, Kamis (28/1). “Baru kali ini saya melihat ada rekaman lagu pop Bali yang menggunakan unsur orkestra. Ini satu langkah berani. Selama ini kebanyakan rekaman lagu pop Bali dibuat easy listening sehingga lebih mudah memasyarakat. Saya juga berterima kasih karena rekaman ini melibatkan pemain biola dari mahasiswa jurusan musik di ISI Denpasar,” komentar Komang Darmayuda, dosen sekaligus Pembina Sanggar Cresendo tempat Anggis bergabung.

Anggis sendiri mengaku senang, akhirnya bisa merampungkan album rekaman sendiri setelah melalui proses yang cukup lama. Soal pilihan tema lagu yang banyak mengangkat masalah adat dan budaya Bali, secara polos ia menjawab, “Ya karena Anggis tinggal di Bali, selain itu ada dorongan orangtua, dan juga karena Anggis cinta Bali,” ujarnya malu-malu.

Menurut I Wayan Gede Utama Manik Meranggi, ayah sekaligus produser rekaman Anggis, ide untuk membuatkan album ini awalnya semata karena Anggis suka menyanyi, lalu diikutkan les, berlanjut ke lomba-lomba lagu pop Bali. “Karena dia berprestasi, saya pikir sangat perlu dibuatkan album sebagai dukungan untuk semua yang sudah diusahakan dan dicapai sesuai hobinya,” jelasnya.

Dari itulah kemudian muncul ide untuk membuatkan Anggis rekaman lagu lagu pop Bali yang isinya menceritkan tentang kehidupan sehari hari , adat budaya, filosofi dan cerita remaja yang disesuikan dengan realita saat ini. Sebut misalnya lagu bertemakan Purnamaning kedasa yang menceritakan tentang piodalan di Pura Besakih. Selain itu juga terdapat lagu tentang yang terinspirasi Sanghyang Saraswati, cerita rakyat seperti I Durma lan Rajapala. Pesan moral juga muncul di lagu tentang sesana, prilaku baik yang berpengharapan agar semeton Bali bersatu, saling mendukung, saling asah, asih, dan asuh. Meskipun demikian, untuk memberi warna sesuai karakter Anggis yang beranjak remaja, ada pula satu lagu tentang kisah cinta remaja, Gugul Rindu.

Manik Meranggi berharap, album “Anggis Devaki” yang dikemas dalam format DVD dapat diterima di masyarakat sebagai karya seni lagu pop Bali. Selain itu, album yang dilepas berdekatan dengan Hari Raya Galungan dan Kuningan ini dapat dijadikan kebanggaan masyarakat karena lagu-lagu di dalamnya mengangkat adat istiadat serta budaya Bali. *231

Ang1