Kali Ini Kehormatan untuk World Music

BWMF2

Dwiki Dharmawan, Gilad Atzmon, dan Kamal Musallam tampil di Bali World Music Festival

SEPANJANG tahun, ada begitu banyak festival musik digelar baik di tingkat nasional maupun internasional. Yang paling sering digelar tentu saja festival untuk musik seperti rock, pop, jazz, atau paling tidak reggae. Namun kali ini, sebuah kehormatan ditujukan untuk genre world music. Pertama kalinya, Festival World Music dihelat selama dua hari, Sabtu –Minggu, 5-6 Desember di Agung Rai Museum & Art (Arma), Ubud. Bahkan acara ini direncanakan akan menjadi program rutin tahunan.

Mengusung nama Bali World Music Festival (BWMF), acara ini melibatkan sejumlah musisi baik dari Bali, nasional, bahkan mancanegara. Sederet nama yang sudah siap mensukseskan acara ini di antaranya Gilad Atzmon ( Inggris ) dan Kamal Musallam (Jordania) yang akan berkolaborasi bersama Dwiki Dharmawan  dengan nama World Peace Trio.  Turut tampil perkusionis dan komposer dari Palestina, Nasser Salameh, drummer terkemuka asal Turki yang bermukim di London. Asaf Sirkis, bassist Yaron Stavi (Inggris), dan pemain glysentar Nicolas Meier (Swiss). Mereka akan bergabung dalam Pasar Klewer Project, Eastmania, grup kolaborasi music timur tengah dengan Indonesia dan Cina. Dari dalam negeri ada nama Balawan Batuan Ethnic, Dewa Budjana, Ivan Nestorman Sasando, Nazar Wildan Saung Angklung Udjo, Sa’at Borneo, Ayu Laksmi & Svara Semesta, Planet Bamboo, Tomoca & Persahabatan, Bona Alit, Jes Gamelan Jegog, Emoni, Kalimaya dan Lisa Ruing.

Salah satu penggagas acara, Dwiki Dharmawan menjelaskan, BWMF  yang didukung oleh Kementerian Pariwisata R I ini merupakan acara musik yang sangat spesial. Itu karena musisi internasional, nasional dan musisi lokal Bali yang tampil, semuanya membawa akar dan identitas budayanya masing-masing dalam balutan komposisi musikal.

“Dalam acara ini juga kita berkesempatan menunjukkan kepada dunia kalau musisi nasional dan lokal sangat berpotensi dan berbakat. Akan ada dua panggung pada festival ini akan menjadi ajang kolaborasi di mana para penonton dapat menikmati dan menyaksikan eksplorasi musik yang mungkin tidak dijumpai di panggung lain,” ungkap Dwiki.

Ditambahkan, BWMF juga diharapkan dapat menjadi ajang untuk merayakan Cinta, Perdamaian dan Toleransi melalui musik. Selain itu sebagai menjadi salah satu bentuk representasi dari bertumbuhnya regenerasi musik, munculnya generasi baru kaum muda yang bermusik dengan mengambil inspirasi asal usul tradisi yang selama ini sudah banyak dilupakan, sehingga sangat layak untuk didorong dan diberi kesempatan untuk tampil dihadapan publik.

Sementara itu Anom Darsana dari Antida Music Productions yang juga turut menjadi penggagas acara menambahkan, kehadiran BWMF kian menunjukkan keberadaan Ubud sebagai daerah di mana terjadi banyak pertukaran budaya dan bertumbuhnya berbagai seni baik termasuk seni pertunjukan dan musik. “Desain lokasi yang artistik dan tata panggung yang dibuat untuk merespon tema festival kali ini juga akan dipercantik dengan seni video mapping yang dieksplorasi dan diarahkan ke instalasi di panggung,” ujarnya.

Dijelaskan pula, selain mempersembahkan perpaduan multi-kultural yang kental melalui penampilan musisi manca negara dan musisi dalam negeri, BWMF juga dirancang hadir dengan nilai lebih. Misalnya saja dengan digelarnya acara tambahan workshop musik sehingga diharapkan dapat memberikan kontribusi positif bagi kalangan generasi muda untuk lebih banyak mengenal dan mengeksplorasi khasanah musik dunia, Indonesia dan di Bali khususnya. Workshop terbuka ini juga akan memberikan kesempatan kepada warga asing untuk mendapat pengetahuan tentang instrumen musik tradisional Indonesia dan mancanegara, sehingga diharapkan proses kreatif ini akan merangsang kolaborasi-kolaborasi budaya ke depannya.  (*/231)

BWMF