Meskipun Klasik , Tetap Asyik

kon2
Heny Janawati diiringi Ratna Ansyari Katamsi

MUNGKIN masih banyak masyarakat awam yang menganggap konser musik klasik itu membosankan, terlalu “serius”, terlalu berat, dan berbagai stereotip lain. Namun sekali saja berkesempatan menyaksikan pentas musik klasik yang memang digarap dengan apik, siap-siaplah untuk terpesona, karena meskipun klasik, tetap asyik.

Acara A Tribute to Indonesian Composer, “Konser Musik Karya Anak Bangsa” yang digelar di Bentara Budaya Bali, 10-11 Oktober lalu membuktikan kalau musik klasik cukup kuat menyedot minat penikmat musik. Mulai dari yang sekadar iseng ingin tahu, hingga mereka yang memang menyukai alunan musik klasik. Minggu (11/10) malam, sebuah pertunjukan yang dikemas bersahaja dengan durasi yang pas sekitar 90 menit, mengundang tepuk tangan seluruh penonton yang memenuhi gedung tertutup tempat acara. Bahkan tak sedikit yang melakukan standing ovation selepas seluruh penampil membawakan lagu “Indonesia Pusaka” sebagai penutup konser.

Bisa dikatakan sangat beruntung penonton dapat menyaksikan langsung terlebih lagi secara cuma-cuma, penampilan musisi klasik Indonesia yang sudah begitu diakui di kelasnya. Pertunjukan dibuka dengan penampilan Aisha Sudiarso Pletsher, pianis yang telah banyak tampil dalam berbagai format musik termasuk resital tunggal di Indonesia, Hong Kong, Algeria dan USA. Aisha membawakan beberapa nomor karya Untuk catatan, Aisha menjadi wakil Indonesia dalam pagelaran bersama Perancis dan Polandia dalam rangka memperingati 250 tahun wafatnya pianis Polandia, Frederick Chopin. Aisha juga sempat berkolaborasi dengan Budi Utomo Prabowo untuk nomor “Suita Dolanan” karya Mochtar Embut.

Selain Aisha, tampil pula pianis asal Yogyakarta, Ratna Ansyari Katamsi yang mengiringi Aning Katamsi dan Heny Janawati. Aning Katamsi, soprano yang meneruskan nama besar sang ibunda, Pranawengrum Katamsi — penyanyi klasik  senior Indonesia — membawakan beberapa karya Trisutji Kamal yang terangkum dalam “Siklus Cinta dan Pengorbanan”. Sementara itu Heny Janawati, satu dari begitu sedikit penyanyi klasik yang dimiliki Bali. Dengan pengalaman berpartisipasi dalam beberapa masterclass dengan beberapa tokoh opera Amerika Utara, tampil di panggung opera dan musik klasik Amerika Utara dan Eropa, tak heran penyanyi mezzo soprano ini mampu memukau penonton dengan tiga lagu dari siklus kumpulan sajak “Puntung Berasap” dan tiga lagu lainnya karya Mochtar Embut.

Puncaknya, tampil baritone Joseph Kristanto Pantioso yang mampu “menyihir” penonton dengan suara baritonnya. Joseph – pendiri sanggar musik ”Musicasa” yang terus mencetak  musisi-musisi muda berbakat — membawakan enam lagu karya sejumlah composer seperti Badjuri, Mochtar Embut, R.A.J. Soedjasmin, F.X. Soetopo dan Ismail Marzuki.

Warih Wisatsana dari Bentara Budaya Bali berharap, acara yang digagas bersama Amabile Music Studio tersebut dapat meningkatkan apresiasi dan kecintaan masyarakat luas terhadap musik klasik. Sekaligus juga sebuah upaya transfer of knowledge atau perluasan pengetahuan bagi generasi muda melalui serangkaian kompetisi piano yang diikuti peserta dari berbagai kategori usia. *231

kon3
Penampilan Aning Katamasi yang memukau penonton
kon4
Segenap penampil dalam acara A Tribute To Indonesian Composer “Konser Musik Karya Anak Bangsa” di Bentara Budaya Bali, Minggu (11/10) malam

About the author