Lagi, Nosstress Disambut Hangat di Jerman

Nos

Trio Nostress

UNTUK kedua kalinya, grup musik folk adal Bali, Nosstress, tampil di acara tahunan Pasar Hamburg, Jerman. Tampil 26 dan 27 September lalu, trio musisi muda ini disambut hangat pengunjung yang tertarik ingin mengenal lebih banyak potensi seni dari Indonesia. Selain Nostress, sejumlah seniman Bali lainnya juga mengisi acara di sana, seperti Ayu Laksmi, Oka Rusmini, Cok Sawitri, dan Ariani Willems.

Sebelumnya, 2014, Man Angga (vokal/gitar), Guna Kupit (vocal/gitar) dan Cok Gus (vocal/cajoon/harmonica/pianika) sudah berkesempatan tampil di acara serupa. Selain itu mereka juga tampil di Hannover, dan mengisi beberapa gigs lainnya di Berlin, serta di kota Mannheim, Jerman. Pun, kedatangan mereka kali ini di Jerman diisi dengan sejumlah pertunjukan lainnya.

 “Kami ke Jerman atas undangan dari panitia Pasar Hamburg, dan di sana selama tiga minggu. Selain main di Pasar Hamburg kami akan mengunjungi beberapa tempat,” jelas Cok Gus.

Pasar Hamburg merupakan festival Indonesia terbesar di German yang menampilkan ragam pertunjukan budaya, musik, seni rupa aktual Indonesia. Festival yang digelar oleh komunitas orang Indonesia yang tinggal di Jerman ini sudah berjalan untuk ketiga kalinya sejak tahun 2013 menghadirkan musisi, penulis dan seniman dari Indonesia.

Saat tampil di Festival Pasar Hamburg, Nostress akan membawakan sejumolah lagu dari album pertama dan kedua. Menurut Guna Kupit, kesempatan ini juga menjadi ajang media temu kangen, mengobati rasa rindu tanah air bagi kawan-kawan yang menetap di Jerman, sekalius memupuk rasa persatuan sebangsa dan setanah air meskipun hidup di belahan benua lain.

Penampilan di Jerman juga dimanfaatkan trio akustik ini untuk menyuarakan kepedulian terhadap lingkungan. Utamanya berkaitan dengan terhadap penolakan rencana reklamasi Teluk Benoa seluas 700 hektar.  “Tahun lalu saat tampil di Jerman, kami juga menyuarakan penolakan reklamasi Teluk Benoa bersama kawan-kawan asal Indonesia dan warga Jerman di sana, saat tampil maupun di aksi ruang publik. Responsnya sangat bagus, dengan aksi ini mereka jadi tahu informasi, apa yang sedang terjadi dan mengancam alam Bali dari tangan investor rakus,” jelas Man Angga.

Nostress dikenal sebagai band indie Bali yang namanya kian bersinar dalam tiga tahun terakhir, sejak merilis album “Perspektif Bodoh” (2011), “Perspektif Bodoh II” (2013), dan mengisi dua album kompilasi “Bali Bergerak” (2014) serta “Prison Songs : Nyanyian Yang Dibungkam” (2015) *231