Maliq & D’Essentials dan “Intimidasi” Slankers

Maliq

Maliq & D’Essentials

BAGI Maliq & D’Essentials, tampil di festival musik sebesar SoundrenAline bukanlah hal baru lagi. Tapi ditempatkan di panggung utama, di panggung terbesar, kali pertama ketika mereka main di SoundrenAline 2015 di GWK, 6 September lalu. Lain dari itu, di jadwal pertunjukan, mereka ditempatkan sebelum Sheila on 7 dan Slank. Tak terbayang bagaimana mereka harus memainkan musik beraliran jazz di hadapan fans berat SO7 dan para Slankers yang sudah memadati tempat acara sejak sore.

“Kami berpikir bagaimana menghadapi ‘intimidasi’ dari para Slankers,” komentar Angga, vokalis Maliq & D’Essentials, sesaat sebelum tampil.

Tentu saja Angga hanya berseloroh soal apa yang disebutnya “intimidasi” itu, karena siapapun penyanyi atau band yang beda aliran dihadapkan pada fans fanatik grup lain, tentu jadi berpikir pula. Namun karena bagi Angga dan kawan-kawan ini bukan kali pertama mereka dihadapkan pada persoalan serupa, tak jadi masalah lagi. Jauh lebih penting bagi mereka adalah bagaimana memberikan performa terbaik kepada penonton.

“Kami tidak akan berpikir dan berusaha bagaimana harus menaklukkan penonton, karena itu tentu susah. Lebih baik bagi kami berusaha memberikan penampilan sebaik-baiknya, agar semua bisa menikmati,” tambah Angga.

Buktinya, tak ada masalah dengan penonton ketika Maliq & D’Essentials tampil sesaat sebelum N.E.V. (format baru Nidji dengan musik elektrik), SO7 dan Slank. Penampilan grup yang terbentuk sejak 2002 ini tetap mendapat respons bagus dari penonton. Dengan permainan musik yang khas, perpaduan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris dalam lagu-lagunya, Maliq & D’Essentials tetap dapat menguasai panggung besar dengan baik. *231