Jatuh Bangun Bermusik di Negeri Orang

Budi1

Budi Bone

ADA banyak cara yang bisa dilakukan untuk menunjukkan kecintaan terhadap Tanah Air. Tidak terkecuali di jalur musik. Melalui musik pula, seorang putra bangsa, Budi Tamtama LB. atau lebih dikenal dengan nama Budi Bone, tak hanya mencari nafkah untuk menyambung hidup, tetapi sekaligus mengibarkan bendera merah putih di negeri orang. Ya, Budi yang dibesarkan di Bali, mengawali kiprah di bidang musik dengan menjadi penyanyi hotel dan tempat hiburan di Bali, kini pindah ke Australia. Di negeri orang, Budi tetap bangga membawa nama Indonesia. Bagaimana susahnya, jatuh bangun bermusik di negeri orang, Budi menuturkan pengalamannya dalam tulisan bergaya cerita.

——————-

Nama saya Budi Boné. Ini cerita usaha saya mengibarkan bendera merah putih melalui kemampuan bermusik yang saya miliki di negeri orang. Saya musisi dari Bali yang memulai karir sebagai penyanyi profesional di hotel-hotel berbintang di Bali sejak tahun 1990. Saya dan keluarga pindah ke Central Coast, NSW Australia tahun 2005. Setelah anak saya yang pertama lahir di sini, kami ingin kembali ke Bali. Namun pertistiwa ledakan bom kedua kalinya di Bali, 1 October 2005 membuat saya dan keluarga memutuskan untuk tetap menetap dan melanjutkan karir sebagai musisi di Australia. Selain itu trauma Bom Bali pertama 12 Oktober 2002 masih melekat di benak saya. Pacar saya (yang adalah istri saya sekarang) meninggalkan Ground Zero (pusat ledakan nom) hanya sekitar 15 menit sebelum Bom meledak. Sakit kepala(migrain) yang membuat dia bergegas meninggalkan tempat itu dengan temannya. Saya selalu mengucap syukur sampai sekarang kepada Tuhan karena itu.

Ternyata memulai usaha sebagai penyanyi di Australia tidak semudah yang saya duga. Untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga saya bekerja sebagai pencuci piring di sebuah hotel bintang empat selama 3,5 tahun. Sepanjang waktu itu saya meminta bahkan memohon kepada jajaran manajemen untuk memperbolehkan saya mulai main musik di hotel yang sama. Karena aksen bahasa Inggris dan latar belakang yang adalah orang Indonesia mereka tidak yakin bahwa saya adalah penyanyi profesional. Saya mendengar ucapan yang lumayan pedas dari seorang manajer. “Dalam bahasa apa anda akan bernyanyi?”

Saya juga disarankan untuk bergabung dengan agency yang mengurus musik di hotel tersebut. Setelah mempersiapkan hal-hal yang diperlukan. pelecehan kembali terjadi. Agency melalui salah satu pegawainya mengatakan bahwa mereka sudah menerima data-data dan contoh musik saya tetapi “tidak akan mencarikan” gig atau job musik untuk saya. Akhirnya saya memutuskan berhenti bekerja di hotel tersebut dan menjadi pengantar katalog promosi ke kotak-kotak pos rumah orang- orang di daerah tempat saya tinggal. Saya lakukan dengan gembira karena yakin suatu saat saya pasti dapat jalan. Selain itu saya bisa menyelipkan kartu nama musik saya didalam katalog-katalog tersebut. Karena penghasilan dari pekerjaan ini tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan keluarga, saya putus asa dan menangis. Saya sangat frustrasi dan membenci orang-orang tang tidak memberikan saya kesempatan. Tetapi saya kemudian ingat bahwa saya anak seorang tentara yang dididik berjiwa besar dan pantang menyerah. Kemudian saya melanjutkan mencari peluang untuk mendapatkan job musik tanpa henti. Kebencian karena korban rasialis dan pelecehan membuat saya malah bertekat dan semangat.

Akhirnya saya mendapat jalan untuk tampil sebulan sekali di hotel tempat kerja saya sebelumnya. Adalah Leslie, seorang supervisor restauran di hotel tersebut yang simpati dengan usaha saya. Dengan bantuan komunitas Indonesia – Australia yang banyak hadir saat pertunjukan setelah undangan saya lewat sms, akhirnya bisnis musik saya perlahan berkembang. Saat itu Facebook belum banyak digunakan. Karena musik yang bagus tidak menjamin mendapatkan banyak pekerjaan di sini, kemudian saya berusaha mem-branding konsep musik saya dengan versatile live music for all generations. Selain tampil solo saya juga tampil duo dengan main gitar dan conga di mana kedua kaki saya juga memainkan tamborin dan stomp box sambil menyanyi sebagai vokalis utama.

Mereka Butuh Pembuktian

Dari pengamatan saya sendiri, mem-branding musik tidak akan berarti banyak tanpa promosi. Saya lalu mempromosikan musik saya sendiri melalui poster dan kartu bisnis yang saya letakkan di banyak toko-toko. Saya sangat berterima kasih kepada pegawai dan pemilik toko-toko tersebut yang mempunyai hati untuk menolong saya mempromosikan musik saya. Dari para pemilik toko yang adalah orang-orang Australia tersebut saya mendapatkan masukan bahwa mereka tidak rasis dan malah sebaliknya dengan tulus menolong usaha saya.

Saat mulai mendapatkan pekerjaan saya kadang juga menemukan orang-orang yang rasis di tempat saya main musik. Dari cara mereka melihat saya saat baru datang sampai pada cara mereka bertanya untuk mengetahui kemampuan saya. Terkadang juga dari kata-kata candaan yang saya dengar dalam percakapan mereka tentang saya. Yang kadang sangat menjengkelkan adalah saat saya berjalan menuju bar di mana saya main musik pertama kali di tempat itu. Dari luar saya bisa mendengar percapakan yang lumayan ramai dari pelanggan bar tersebut. Tapi begitu saya buka pintu dan masuk, suara percakapan yang ramai tersebut mendadak senyap. Seperti ada yang mengecilkan “volume” suara ramai tersebut.

Dulu saya sempat kawatir dengan situasi itu. Tetapi setelah memperlajari kebanyakan karakter orang Australia yang “ingin pembuktian nyata” untuk bisa sportif mengakui kemampuan seseorang, akhirnya saya menggunakan hal tersebut untuk meningkatkan jumlah penggemar grup saya. Saya memanfaatkan penampilan saya yang terlihat berbeda sebagai cara marketing untuk membedakan saya dari banyak musisi yang ada. Dengan begitu saya akan mudah diingat. Saat waktu istirahat atau setelah selesai pertunjukan saya sering mengobrol dengan penonton. Dari berinteraksi dengan mereka pikiran saya jadi lebih terbuka. Ternyata lebih banyak orang Australia yang saya temui sangat murah hati dan tulus untuk menolong mempromosikan musik saya kepada saudara, teman-teman bahkan manajer-manajer di Club favoritnya.

Bertemu Perdana Menteri

Suatu hari saya mendapatkan pengalaman yang tidak pernah terlupakan. Perdana Menteri Australia saat itu, Julia Gillard mengunjungi restauran tempat saya tampil untuk makan siang bersama Bapak Walikota dan beberapa pejabat Australia. Luar biasa! Saya bisa mendekati beliau saat waktu istirahat, walaupun diawasi super ketat oleh para pengawalnya. Saya sempat berbincang bincang singkat dengan Ibu Perdana Menteri yang menyatakan suka dengan musik saya. sangat ramah dan mempersilakan untuk mengambil foto bersama. Saya juga merasa sangat beruntung bisa dipilih oleh pemerintah daerah, Central Coast NSW untuk memberikan hiburan musik kepada sekitar 15.000 penonton saat istirahat tengah main pertandingan Rugby Nasional Australia.

Dengan pengalaman bermain musik yang cukup lama, jumlah lagu yang lumayan banyak dan kemampuan memainkan ritme yang berbeda- beda, live music saya disukai oleh penonton dalam kategori umur dari anak-anak, anak muda sampai orang tua. Banyak pendapat yang mengatakan bahwa mereka tidak menduga bahwa aksen bahasa Inggris saya hilang saat saya menyanyi. Pujian tersebut tidak pernah menghentikan usaha keras saya yang terus-menerus sampai sekarang mempelajari kata-kata pengucapan Bahasa Inggris yang sangat sulit dilafalkan oleh orang Asia pada umumnya. Ternyata wajah Indonesia saya justru banyak memberikan kejutan akan kemampuan saya membawakan lagu-lagu dalam Bahasa Inggris dan bahkan lagu-lagu terkenal dari Australia. Wajah Indonesia, hmmm… akhirnya menjadi andalan pemasaran musik saya. Grup musik saya, Kuta Groove makin berkembang lagi setelah seorang gitaris handal dari Bali, Zulu bergabung dua tahun terakhir ini.

Sekarang musik adalah pekerjaan tetap saya di sini. Kuta Groove tampil reguler di banyak Club, restauran dan melakukan pertunjukan untuk banyak pesta juga festival. Banyak teman-teman kami orang Australia mengatakan bahwa kami sangat beruntung punya bakat musik dan hidup dalam pekerjaan yang diimpikan banyak orang. Karena tingkat stress tuntutan target di tempat mereka bekerja lumayan tinggi. Mereka juga mengatakan bahwa kemampuan seni orang Indonesia sangat berkualitas.

Saya belum sukses sekali apalagi kaya. Tetapi bisa menghidupi keluarga, menyekolahkan dua anak kami dan bersama istri membayar cicilan rumah kecil kami serta bisa berlibur pulang kampung ke Bali setahun sekali. Memberi makan keluarga dari pekerjaan musisi di tanah orang adalah hal yang membanggakan dari darah seni Indonesia dalam tubuh saya. Saya merasa menang karena justru dengan latar belakang sebagai orang Indonesia memberikan kehidupan yang baik dan layak di tanah orang.

Tidak perlu berkecil hati karena rasisme. Baik buruk ada di hati setiap orang bukan dari mana anda berasal. Kalau mau jujur tidak hanya di sini, di Indonesia sekalipun banyak orang sampai melakukan kekerasan atas dasar rasisme rahkan tega membunuh atas dasar yang sama.

Semoga kisah saya ini bisa menjadi motivasi untuk Bangga Sebagai Orang Indonesia. Karena kenyataannya banyak orang asing yang justru kagum dengan Indonesia. Silahkan sebarkan Kebanggaan Bangsa kita dengan menyebarkan artikel ini sebagai pendidikan terutama untuk generasi muda. Semoga mereka tidak selalu berpikir bahwa luar negeri selalu hebat dan di dalam negeri selalu ketinggalan jaman. Mari mencipta dan berbanggalah dengan apa yang kita miliki. ***