“Tatap Muka”, Ketika Navicula Makin “Dewasa”

Navicula

Robi, Dankie, dan Made “Navicula” memperkenalkan album “Tatap Muka”

SETELAH merilis secara resmi album ke-8 yang diberi judul “Tatap Muka” di Jakarta, akhir Mei silam, grup band Navicula akan menggelar konser tunggal untuk menandai peluncuran album di Taman Jepun, Denpasar, Minggu 28 Juni mendatang. Jika saat tampil di Jakarta tidak semua tim diturunkan, maka untuk konser tunggal nanti seluruh musisi dan penyanyi yang mendukung rekaman“Tatap Muka” akan ditampilkan penuh.

Bicara soal album “Tatap Muka”, Robi sang vokalis mengibaratkan semacam pembuktian jika setelah 19 tahun bermusik di jalur indie, sempat pula mencicipi major label, kini Navicula makin “dewasa” dalam berkarya. Kedewasaan dalam bermusik, di mana masing-masing personel Navicula makin terbiasa mengontrol ego, emosi saat bermain. Sehingga bermusik bukan lagi hanya urusan bagaimana menggebrak panggung, tetapi musik juga –yang menurut Danki, sang gitaris — bisa menjadi urusan “spiritual”.

Kedewasaan itu ditunjukkan dengan pilihan aransemen musik akustik, maupun album yang dikemas dalam bentuk DVD live record. Kepada wartawan saat bincang-bincang dengan wartawan di Mangsi Coffee, Denpasar, Rabu (25/6), Robi menyatakan Navicula memang bukan yang pertama melakukan rekaman live akustik.  Sebelumnya ada KLa Project, namun rekamannya dirilis hanya dalam format audio. Sedangkan Navicula memilih format DVD dengan berbagai pertimbangan.  Proses pengambilan gambar dan audio dilakukan di Museum Topeng Setia Darma, Ubud, karena akustik ruangan dan nuansanya yang mendukung atmosfer musik yang dimainkan.

Menurut Dankie, pilihan audio visual untuk album “Tatap Muka” karena Navicula ingin berbagi tak hanya musik tapi juga energi selama proses kreatif penggarapan album ini. “Kami ingin menampilkan kejujuran. Dengan video, selain akan sangat membantu pendengar untuk dapat merasakan energi musik yang kami mainkan, juga dapat menampilkan bagaimana proses kreatif itu terjadi,” jelasnya.

Meskipun memilih aransemen musik akustik, dan rekaman beredar dalam format DVD live record, baik Robi maupun Dankie menegaskan tidak ada yang berubah dari Navicula. Karakter khas, benang merah Navicula masih ada pada permainan tiap personel. “Ibaratnya lukisan, kalau dulu melukis menggunakan cat minyak, sekarang menggunakan cat air. Beda teknik dan media, tetapi coraknya tetap sama,” ucap Robi.

Pilihan judul “Tatap Muka”, menurut Robi sesuai dengan format rekaman audio visual live record, dengan sejumlah testimoni dari masing-masing personel, yang dapat memunculkan kesan seperti bertatap muka antara Navicula yang audiens. Untuk album ini, urusan video diserahkan kepada sutradara Erick EST, sedangkan untuk urusan musik ditangani Antida Music Production. Album ini juga melibatkan enam musisi pendamping, seperti Affan Latanete (perkusi), Windu Estianto (piano), Sari “Nymphea” (vokal latar), Vivi Mambo (vokal latar), Sony Bono (gitar) dan Fendi Rizky (biola). Delapan lagu yang dimainkan di album ini, dua lagu baru “Dead Trees”, dan “Song in Dadgad”, sedangkan enam lainnya, “Is Me”, “Tak Pernah Berubah”,  “Merdeka”, “Bekas Luka”, “Suara Hati”, “Mother in Child” diambil dari beberapa album Navicula sebelumnya.

Navicula hingga kini masih solid dengan formasi Gede Robi Supriyanto alias Robi (vokal), Dadang SH Pranoto alias Dankie (gitar), Made Indra  (bass) dan Rai Widya Adnyana alias Gembul (drum). Grup ini terbentuk 1996 dan cukup lama menjajal kancah band indie di Bali. Setelah merilis tiga album secara indie, untuk album ke-4 “Alkemis” di tahun 2004, Navicula bergabung dengan major label terkenal, Sony-BMG. Merasa lebih “nyaman” di jalur indie, untuk album ke-5, “Beautiful Rebel” (2007), Navicula memutuskan keluar dari Sony-BMG dan kembali melangkah independen untuk album ke-6 “Salto” (2009), album ke-7 “Love Bomb” (2013) dan album ke-8 “Tatap Muka” (2015). *231