Membedah Proses Kreatif Tiga Komposer Muda

musisi
Wayan Sudiarsa, Gus Teja, dan Ari Wijaya dalam diskusi santai yang dipandu Made Adnyana

MEREKA bertiga adalah seniman, composer muda. Mereka bertiga sama-sama jebolan Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar. Bertiga pula mereka sama-sama mengawali pergumulan dengan seni musik tradisional melalui gamelan, dan kini sama-sama menjadikan suling sebagai dasar dalam berkarya, di jalur masing-masing. Mereka adalah Agus Teja Sentosa, S.Sn, M.Sn (Gus Teja World Music), I Wayan Sudiarsa, S.Sn., M.Sn. (gong suling Gita Semara), dan Ari Wijaya, S.Sn. (Palawara Music Company).

Minggu (14/6) lalu, ketiganya dipertemukan dalam satu acara diskusi musik di Rumah Penggak Men Mersi, Denpasar. Tak hanya membahas mengenai konsep jagaditha (kesejahteraan) dalam kaitannya dengan pengembangan seni musik serta karawitan Bali, tiga seniman muda ini juga buka-bukaan, berbagi pengalaman, membedah proses kreatif menghasilkan karya hingga mempromosikannya kepada publik.

Hal yang tak kalah menarik, ketiganya juga bercerita prihal bagaimana memaknai suling sebagai instrumen yang begitu penting dalam garapan masing-masing. Bagi Ari “Palawara”, suling tak hanya memiliki notasi yang kaya, namun juga sangat luwes ketika dimasukkan ke dalam instrumen lain baik tradisional maupun modern. Keunikan suling pula yang membuat Sudiarsa alias Pacet kemudian mengedepankan suling dalam sekaa gamelannya. Dengan kata lain, sekalipun menggunakan instrument lain, suling yang paling dominan dalam garapannya. Tak perlu diragukan pula bagaimana kemudian Gus teja menjadikan suling sebagai lead, bahkan lebih dari sekadar pengganti vokal dalam karya-karyanya.

“Sebelumnya kan instrumen suling kesannya terpinggirkan, posisinya di pojok. Pun banyak yang enggan memainkan suling karena takut wajahnya terlihat tidak menarik. Dari sana muncul pemikiran bagaimana jika posisi suling dibawa ke depan dan bisa menjadi yang terdepan,” papar Gus Teja.

Di akhir acara, Gus Teja, Ari dan Pacet sempat berkolaborasi dengan musisi dari sekaa Gita Semara. Kadek Wahyudita, pengelola Penggak Men Mersi mengatakan, karya ketiga musisi muda yang menjadi narasumber sore itu layak diapresiasi. Diharapkan dari diskusi semacam itu selain sebagai kesempatan berbagi tentang proses kreatif  masing-masing narasumber, juga sebagai contoh dan motivasi yang dapat mendorong seniman muda lainnya semangat pula dalam berkarya. *231

About the author