Gus Teja Pernah Diusir Satpam Hotel

Gus Teja

Gus Teja

DALAM tiga tahun terakhir, nama Gus Teja menjadi begitu populer di kalangan penikmat musik. Tak hanya di Bali, namun juga sampai ke gelaran acara musik tingkat internasional. Tentu itu terjadi setelah ia berhasil membuai telinga orang banyak dengan alunan serulingnya dari album “Rhytm of Paradise” (2009), “Flute for Love” (2011), hingga “Ulah Egar” (2015). Sukses Gus Teja bukan sekadar isapan jempol, terbukti CD album pertamanya yang menghasilkan hits bertajuk sama, “Morning Happiness”, hingga terus diminta, bahkan secara total sudah dicetak sekitar 30 ribu keping.

Tapi tak banyak yang tahu, bagaimana sulitnya bagi seorang Gus Teja untuk berproses hingga sampai pada titik pencapaian saat ini. Begitu banyak penolakan yang dialaminya ketika pertama kali memperkenalkan karyanya secara mandiri, hingga punya pengalaman kurang mengenakkan, diusir satpam hotel. Hal itu dituturkan Gus Teja ketika menjadi salah satu narasumber diskusi bertema “Aplikasi Konsep Jagaditha dalam Pengembangan Seni Musik dan Karawitan Bali” di Penggak Men Mersi, Denpasar, Minggu (14/6).

Musisi kelahiran Junjungan, Ubud, 32 tahun silam itu menuturkan, ketika materi album “Rhytm of Paradise” selesai digarap 2009, ia sempat berusaha untuk menawarkan karyanya ke sejumlah pihak agar bisa diproduksi. Karena “barang baru” dan dianggap sulit untuk dipasarkan secara komersial, meraih keuntungan secara ekonomis, Gus Teja pun berulang kali mengalami penolakan. Hingga akhirnya ia nekat memproduksi sendiri karyanya dengan modal pinjaman 25 juta rupiah dari LPD di desanya. Ia pun kemudian berupaya mempromosikan sendiri karyanya, termasuk dengan menawarkan ke tempat pariwisata seperti restauran dan hotel.

“Bukan diterima, malah saya sempat diusir satpam. Tapi belajar dari pengalaman itu, ditolak di sana, ditolak di sini, tidak membuat saya putus asaj, saya jadikan itu sebagai satu pelajaran,” kenangnya.

Butuh waktu cukup lama bagi Gus Teja, pelan-pelan, hingga akhirnya memasuki 2011 lagu “Morning Happiness” dari album perdananya mulai banyak digemari dimana-mana. Kini ia pun mulai bisa merasakan manisnya buah karya yang sudah mulai dirintisnya sejak masih duduk di bangku kuliah di Institut Senin Indonesia (ISI) Denpasar.  Menariknya lagi, sebagian besar alat musik yang digunakannya dalam rekaman dibuat sendiri. Terutama semua seruling yang menjadi “senjata” andalannya, juga dua tingklik baro dan semua suling.

Bercermin dari pengalamannya itulah, musisi yang menyandang gelar magister seni  ini mencoba berbagi kepada musisi-musisi muda lainnya yang tengah berproses untuk menghasilkan satu karya, agar tetap semangat. “Intinya adalah harus mau bekerja keras. Berani mencoba, kreatif dalam berkarya, dan jangan pernah berkecil hati,” pesannya.

Begitu pula untuk urusan karya, musisi yang sudah dua kali diundang mengisi acara festival world music tingkat internasional di Malaysia ini mengatakan, sebuah karya yang bagus adalah karya yang lahir dari hati. Karya yang dibuat dari dalam hati penciptanya akan berhasil ketika juga bisa diterima oleh pendengarnya dengan hati. “Dan jangan lupa, kalau itu bisa dicapai, kita bisa menjual karya kita,” demikian Gus Teja.

Di tengah kesibukan mengisi berbagai acara musik saat ini, Gus Teja juga masih terus mempromosikan album terbarunya “Ulah Egar”. Setelah merilis video klip “Ulah Egar” yang menampilkan adegan permainan tradisional Bali, mepantigan, saat ini ia tengah menyiapkan penggarapan video klip untuk lagu “Unify”. Konsepnya, seluruh musisi pendukun Gus Teja World Music akan mengenakan ragam pakaian daerah Nusantara sesuai pesan persatuan dalam musik tersebut. *231