Bikin Rekaman Istimewa? “Jeg Let’s Go…”

BibbbTAK sulit bagi seorang penyanyi, musisi, atau grup band, untuk menyebut karya rekaman mereka sebagai sesuatu yang special, sesuatu yang istimewa. Namun seberapa istimewa, seberapa spesial karya yang dihasilkan, tentu harus terkandung beberapa hal yang menjadikannya demikian. Pun, kembali ke penilaian penikmatnya.

Jika kemudian grup band Bintang juga menyebut album terbarunya yang berjudul “Jeg Let’s Go” sebagai satu karya yang istimewa, kiranya wajar saja. Album dalam format audio CD yang diluncurkan secara resmi Minggu (7/6) ini, memang memiliki sejumlah “keistimewaan” yang tak ada atau belum pernah dilakukan grup band lagu berbahasa Bali lainnya.

Dari segi tampilan sampul depan album, juga artwork lain yang ada termasuk pada stampler di permukaan CD, sudah terlihat “keistimewaan” tersebut. Sejak meluncurkan album pertama kali di awal 2004, ini kali pertama Bintang menampilkan wajah seluruh personelnya di sampul album. Itu pun bukan berupa foto, tetapi bergaya lukisan. Bukan sekadar hasil karya tangan, karena yang mengerjakannya pun terbilang “pakar” di bidangnya, kartunis kenamaan Bali, Jango Paramarta. Sedangkan track lagu dan tulisan lainnya hasil goresan tangan Teguh Setiabudi alias Igo, pentolan grup band Telephone.

Keistimewaan lain, Jun, vokalis grup ini tidak mau sesumbar menyebut angka yang tinggi untuk jumlah keping CD yang diproduksi. “Jeg Let’s Go” hanya dicetak sebanyak 500 keping, dan itu tidak diedarkan seperti biasa melalui distributor toko kaset atau CD. Jumlah tersebut hanya diedarkan alias hanya ada saat Bintang menggelar konser launching album di salah satu tempat hiburan di Kuta, Minggu (7/6). Harganya pun dibandrol 50 ribu rupiah, angka tertinggi yang pernah ada untuk rekaman lagu berbahasa Bali dalam satu dekade terakhir. Lalu bagaimana jika setelah itu ada yang ingin mendapatkan “Jeg Let’s Go”?

“Kami tidak munafik dengan mengatakan tidak ada, kami pasti akan berpikir untuk memproduksi lagi. Hanya kami tidak mau terlalu berharap atau bergantung pada penjualan CD, karena tujuan utama kami bagaimana bisa terus berkarya,” ujar Jun di Sanur, Jumat  (5/6).

Hanya itu saja kah keistimewaan album “Jeg Let’s Go?” Tentu saja masih ada beberapa hal lain yang memberi nilai plus untuk album ke-8 Bintang ini. Dari teknis rekaman, kualitas suara yang dihasilkan di atas rata-rata. Direkam di Antida Record, proses mixing  ditangani Denny Surya (ex. Drummer Lolot yang belakangan sibuk di grup Dialog Dini Hari). Ini kali pertama pula, Bintang memasukkan satu instrumental ke dalam daftar lagunya, satu instrumen gitar berjudul “Bapak Dauh” yang digarap khusus oleh Hari PW, gitaris Bintang.

Di album yang beiris 8 track ini pula, Bintang menampilkan tiga vokalis wanita dari latar belakang berbeda untuk memperkuat lagunya. Pertama, ada Dek Ulik, biduanita papan atas lagu pop Bali, yang digaet untuk lagu “Sing Sabaran”. Lalu ada Ocha, penyanyi jebolan festival yang hingga kini masih dikenal dengan lagu “Taksu” yang turut menyanyi untuk lagu “Monto Gen”. Nah, tak kalah istimewanya, bagaimana Jun “Bintang” bisa membujuk Sari, vokalis band indie Nymphea untuk menjadi teman duetnya di lagu utama “Jeg Let’s Go”. Padahal terus terang Sari mengaku tidak begitu lancar berbahasa Bali apalagi menyanyikan lagu berbahasa Bali. Alhasil, tiga lagu tersebut menjadi suguhan yang memang istimewa bukan hanya bagi Bintang, tetapi juga khasanah lagu berbahasa Bali.

Masih ada keistimewaan lain, Bintang juga didukung pemain trumpet kenamaan Rio Sidik untuk lagu “U’r My Inspiration”, dan pemain biola, Sandi, di lagu “Monto Gen”. Dengan begitu tak berlebihan kalau secara keseluruhan “Jeg Let’s Go” dikatakan istimewa karena didukung orang-orang yang memang berpengalaman, dan ahli di bidangnya masing-masing.

Lalu apa yang membuat Bintang masih tetap solid, masih tetap semangat berkarya hingga memasuki tahun ke-12 berkarya di blantika musik pop Bali? “Kami semangat untuk terus berkarya karena didukung banyak sahabat. Karena sahabat, karena pertemanan, kami bisa mewujudkan semua ini,” demikian Jun.

Grup band Bintang pertama kali muncul di awal 2004 dengan formasi Jun (vokal), Ari (gitar), Ogix (bass), Temy (keyboard), Tut De (drum). Album pertama mereka yang berjudul “Nusuk” menghasilkan hits seperti “Dewa Ratu” dan “Bajingan Eling”. Berturut-turut kemudian Bintang menghasilkan rekaman “Playboy Funky” (2005), “Rambo Olo-olo” (2006), “Sok USA” (2007), “Made in Bali” (2008). Memasuki rekaman ke-6, album “VI: The Best” (2010) yang masih ditangani Jayagiri Production, Bintang mengalami pergantian personel hingga berempat saja, tanpa pemain keyboard. Sedangkan posisi drummer diisi Icux, personel band indie Bali, Nol. Tahun, Bintang merilis album ke-7, “Biang K-Rock” di bawah bendera Blackuro Production. *231