Doa dan Dukungan Semangat untuk Ketut Bimbo

tut1

Ketut Bimbo di antara rekan-rekan musisi, penyanyi, penggemar lagu pop Bali dan keluarga

ADA suasana berbeda di sebuah rumah di banjar Tengah, desa Banyuatis, Buleleng, Rabu 4 Maret lalu. Suasana sehari-hari yang tenang di tengah sejuknya udara pegunungan, berubah menjadi ramai, penuh kehangatan diselingi canda tawa. Saat itu sejumlah musisi dan penyanyi lagu pop Bali bertandang ke rumah Ketut Bimbo, seorang penyanyi Bali yang untuk sementara harus beristirahat karena sakit.

Satu momen yang sangat jarang terjadi, sejumlah “legend” di kancah musik pop Bali berkumpul. Di antaranya hadir Yong Sagita, Yan Bero, Alit Adiari, dan musisi sekaligus arranger Jimmy Silaa. Selain mereka berkumpul pula sejumlah bintang pop Bali seperti Widi Widiana, Yan Mus, Dek Ulik, Ayu Saraswati, Mang Cucun, Sri Dianawati, serta Widiasa (Punk Kwala Band) dan perwakilan dari Paguyuban Penggemar Gending Bali.

Kedatangan sahabat, rekan-rekan di musik pop Bali tersebut tak pelak membuat semangat Ketut Bimbo bangkit. Meskipun masih lemah, ia tak berdiam diri menyambut dan menyapa semua yang datang, mengajaknya ngobrol dan bercanda, bahkan sempat pula “menantang” Alit Adiari dan Ayu Saraswati untuk menyanyi diiringi keyboard. Seakan mendapat tambahan energi, Ketut Bimbo asyik “meladeni” penyanyi lagu pop Bali itu dengan permainan keyboard-nya.

Kabar kalau salah satu pionir lagu berbahasa Bali itu sakit sebetulnya sudah cukup lama beredar. Penyakit gula darah atau diabetes yang dideritanya berkomplikasi dengan liver dan paru-paru. Namun setelah sempat membaik, dalam tiga bulan terakhir kondisi Ketut Bimbo menurun, namun masih bisa rawat jalan. Sebagai wujud kepedulian terhadap sesama, terlebih lagi sudah dianggap sebagai “senior”, sejumlah musisi dan penyanyi pop Bali mulai melakukan gerakan sosial. Selain secara pribadi bertandang ke rumah Ketut Bimbo, ada pula yang datang beramai-ramai untuk menjenguk dan memberi semangat.

Sebelumnya, Senin (2/3), kalangan musisi, penyanyi, dan penggemar lagu pop Bali berkumpul untuk melakukan pengumpulan dana di Krisna Kuliner & Gallery di Denpasar. Tak hanya sebagai kesempatan menggalang dana, acara malam itu juga menjadi kesempatan bertemunya musisi dan penyanyi pop Bali dari berbagai kalangan dan beragam generasi. Semuanya mendoakan agar Ketut Bimbo sehat kembali dan tetap dapat berkarya seperti semula. Acara yang berhasil mengumpulkan dana total 10 juta 300 ribu rupiah itu menjadi satu awal, karena direncanakan akan ada acara serupa lagi ke depan. Salah satunya konser amal di Singaraja, Sabtu (7/3).

bim1

Dari kiri ke kanan : Jimmy Silaa, Alit Adiari, Ketut Bimbo, Yan Bero, Yong Sagita

40 TAHUN BERKARYA. Ketut Bimbo yang pada awal pemunculannya dikenal khas dengan gitar bolong dan harmonika, muncul di kancah rekaman lagu pop Bali dengan lagu “Buduh” di awal tahun 80-an. Album itu pertama kali direkam secara sangat sederhana menggunakan tape deck, hanya dengan instrumen gitar bolong dan sapu lidi, pun satu album direkam selama 7 jam saja, dari pukul 17.00 sampai tengah malam. Walau begitu, album ini laris manis dan banyak diburu.

Sebelumnya pria bernama asli Ketut Sudiasa ini mengawali kiprahnya di musik dengan membuat lagu berbahasa Indonesia dan memainkannya sendiri dengan gitar bolong saat siaran di Radio Massachusets (sekarang radio Barong), di Singaraja. Sejak 1973 siaran di radio, ia juga sempat siaran di Karangasem, lalu Denpasar. Ketertarikannya membuat lagu berbahasa Bali muncul saat bertugas di Karangasem, di mana ia sering kumpul dengan teman-teman dan jadi banyak melihat fenomena sosial yang menarik untuk diangkat sebagai lagu. Nama Bimbo diambil dari nama grup musik nasional asal Bandung, yang digawangi musisi bersaudara, Syam, Acil, dan Iin Parlina. Simpatik akan lagu-lagu Bimbo yang bertutur lugas soal kritik sosial dengan bahasa yang tertata rapi, jadilah Bimbo dipakai sebagai nama udara saat siaran. Setelah nama Ketut Bimbo populer tak hanya sebagai penyiar tetapi juga sebagai nama penyanyi lagu pop Bali, nama asli Ketut Sudiasa malah tak pernah dipakai. Menariknya, bahkan nama di akta lahir dan KTP pun kemudian berubah menjadi Ketut Bimbo.

Hingga saat ini ada sekitar 20 album rekaman yang telah diselesaikannya baik di Aneka Record, Maharani Record, juga Bali Record. Selain “Buduh”, banyak lagu hits yang telah dihasilkannya, seperti “Ngabut Keladi”, “Manis Nyakitin”, “Mebalih Wayang”, “Korting 2 Bulan”, “Alas Wayah” dan lainnya. Selama 40 tahun lebih berkarya, hingga di usianya menjelang 62 tahun, peraih lifetime achievement award dari Bali Music Magazine pada ajang Penganugerahan Gita Nugraha 2009 ini masih aktif siaran, main musik, dan menyanyi.  Apa yang membuatnya tetap semangat berkarya, alasannya sederhana saja. Ia hanya ingin bisa membuat orang lain senang dan terhibur, terutama dengan guyonan atau candaannya.

“Sebenarnya orang seperti saya ini kan ibaratnya mobil, sudah musti masuk dok. Tapi selama orang lain masih senang mendengarkan, saya akan siaran. Tiang lega, ye nau,” tandasnya sembari tersenyum. *231