Ada “Ramalan Masa Depan” di Album Perdana MCK

MCK2

Mom Called Killer

KEMUDAHAN teknologi juga kesempatan publikasi yang kian terbuka melalui berbagai media, mendorong banyak musisi atau grup band untuk buru-buru merilis album rekaman. Bahkan tak sedikit yang begitu dibentuk langsung menempuh proses rekaman. Namun tidak demikian dengan band pengusung metalcore, Mom Called Killer (MCK).

Meskipun sudah mulai berkiprah sejak 2007, MCK lebih memilih untuk mengasah kemampuan dan menambah jam terbang dengan manggung di berbagai acara. Hingga awal 2013, label Rockness Record tertarik memproduseri grup ini. Walau sudah ada yang menangani, MCK masih harus bersabar menunggu. Proses rekaman sesungguhnya sudah rampung akhir 2013, namun baru dirilis secara resmi dalam format CD audio, Desember 2014 lalu. Mengapa begitu lama?

“Pengerjaan album ini dibilang sangat santai, selain itu karena harus berbagi waktu antara kesibukan personil sehari-harinya. Selain itu proses mixing dan mastering yang ditangani Teguh memakan waktu hampir setahun, karena kami ingin hasil yang sangat maksimal untuk album pertama Mom Called Killer,” jelas Edi, bassist MCK.

Maka 11 Desember 2014, MCK resmi memperkenalkan album perdana yang diberi judul “Noisia” yang memuat 10 lagu. Menurut Edi, Noisia bermakna penglihatan masa depan, bahwa tiap tindakan yang kita perbuat ada sebab dan akibatnya. “Noisia menceritakan tentang seorang cenayang yang melihat semua masa depan melalui matanya, dan masa depan itu terangkum dalam lagu-lagu Mom Called Killer,” terangnya.

Sebut misalnya lagu seperti “Pawai Malapetaka” yang berkisah betapa makin banyak daerah konflik yang menyebar luas karena ras dan agama hingga mengorbankan banyak orang yang tak bersalah. Lagu “Sea takes over” menceritakan alam yang “murka” karena keserakahan investor dan pemerintahan yang berpura-pura tuli buta. Ada pula “Juggernaut”, raksasa penghancur – kiasan untuk generasi muda yang mampu mengubah dunia — yang akan menuntut balas akan kerusakan alam yang tidak lagi seimbang .

Bisa dikatakan semua lagu MCK bermuatan pesan, termasuk lagu “Tree of life” yang menyuarakan pentingnya pepohonan sebagai sumber kehidupan, pun lagu “Skyscraper” yang mengajak generasi muda agar tidak mudah menyerah untuk menggapai apa yang dicita-citakan. Bahwa cobaan memang harus dihadapi bukan untuk ditakuti.

MCK yang sudah sering menjajal panggung musik keras di berbagai daerah seperti Bali, Surabaya, Jakarta, Yogyakarta, dan Lombok Mom dibentuk 20 Oktober 2007 dengan personel Adith Bantat (vokal), Dewa Adi (gitar/vokal latar), Gus Agung (gitar), Edi Pande (bass), dan Padwika (drum). Nama Mom Called Killer dari inspirasi maraknya pemberitaan di media massa ketika itu mengenai kekerasan ibu yang tegas membunuh anak kandung  sendiri.

“Kami percaya dengan mendengar nama Mom Called Killer dapat menjadi renungan, peringatan bagi siapa saja bahwa nyawa tiap orang bukanlah mainan yang dapat dicabut atau dipasang sesuka hati. Sehingga kejadian keji pembunuhan anak yg dilakukan ibu sendiri tidak terulang lagi,” papar Edi.

Pilihan metalcore warna musik, menurut Edi karena sudah ada kecocokan dari tiap personel, selain sifat metalcore yang mereka anggap fleksibel untuk genre metal sendiri. Di dalamnya, meteka dapat memasukkan beragam teknik dari jenis musik lain seperti punk,hardcore,heavy metal,deathmetal hingga blues dan country.

Selain tengah merancang promo tur album baik di Bali maupun di luar Bali, MCK juga berencana menggelar pertunjukan khusus sebagai penanda peluncuran album “Noisia”, 28 Februari mendatang. *231