“Bali Bergerak”, Suara Musisi Tolak Reklamasi Teluk Benoa

musisiGERAKAN menentang rencana reklamasi Teluk Benoa terus berlanjut. Komponen masyarakat yang menolak rencana reklamasi kian lantang berbicara dengan beragam cara, mulai dari aksi demonstrasi, mendirikan baliho maupun menggalang dukungan lewat sosial media. Pun, tak ketinggalan sejumlah musisi yang sedaru awal aktif menyuarakan penolakan reklamasi. Salah satu bentuk perlawanan yang mereka lakukan melalui karya seni, dengan merilis album rekaman “Bali Bergerak”.

Album yang diperkenalkan kepada awak media di Denpasar, Senin (13/10) ini diisi sederetan grup band Bali seperti Eco Defender, The Dissland, Rollfast, Joni Agung & Double T, The Bullhead, The Hydrant, Superman Is Dead, Navicula, Nosstress, Made Mawut, Scares Of Bums, Ripper Clown dan Ugly Bastard. Rekaman kompilasi ini akan Album kompilasi yang diisi oleh deratan band Bali ini akan diluncurkan Minggu (19/10) nanti, serangkaian acara budaya Tolak Reklamasi di pantai Padanggalak, Kesiman, Denpasar.

“Di awal-awal munculnya gerakan penolakan reklamasi Teluk Benoa, sejumlah musisi sudah membuat lagu sekaligus klip berjudul Bali Tolak Reklamasi. Seiring waktu makin banyak musisi yang menyatakan sikap, akhirnya kami sepakat untuk membuat album kompilasi. Dan musik adalah senjata perlawanan kami,” papar Dodix, salah satu  pengagas album “Bali Bergerak”.

Dijelaskan, dengan keluarnya album kompilasi tersebut makin menegaskan kalau gerak perlawanan di kalangan musisi kian membesar. Menurut pria yang juga menjadi manajer Superman Is Dead ini, sebetulnya banyak musisi yang ingin terlibat dalam album keroyokan bernafas sosial tersebut. Hanya karena keterbatasan waktu akhirnya album ini diisi oleh band yang telah sudah melakukan terlebih dulu.

“Banyak cara untuk menyuarakan penolakan reklamasi, dan album ini adalah salah satunya. Musisi yang ingin menyuarakan penolakan tak harus bergabung dengan kami. Mereka bisa menyuarakan di tiap manggung atau lewat sosial media. Kita harap kedepan akan ada album kompilasi selanjutnya,” harapnya.

Di lain bagian, Gembul, drummer grup Navicula menyatakan, album ini sebagai  tonggak perlawanan para musisi, menjadi penyemangat sekaligus senjata untuk terus melawan keserakahan para investor yang berambisi mereklamasi Teluk Benoa.” Selain mendengar lagu dari band yang tergabung, lewat album ini kami juga mengedukasi para pendengar tentang dampak buruk reklamasi, dan Navicula sangat bangga ada di barisan ini,” jelasnya.

Sementara itu Angga dari Nosstress menyampaikan, tak hanya musisi, setiap orang yang ingin menyuarakan penolakan bisa bersuara dengan caranya masing-masing. “Jangan merasa kalah sebelum berperang. Kami ada di sini dan akan tak akan pernah menyerah dan terus melawan,” tegasnya.

Album “Bali Bergerak” dilepas dengan harga 35 ribu rupiah. Hasil dari penjualan album ini akan dipakai untuk kegiatan gerakan tolak reklamasi Teluk Benoa. Album ini memuat lagu “Serenada” (Eco Defender ), Kayu Besi Tanah Air Ibu Pertiwi (Musnah)” (The Dissland), “The Death Star” (Rollfast), “Indahnya Hidup Ini” (Joni Agung & Double T), “Anarchy Evolution” (The Bullhead), “Proyek” (RThe Hydrant), “Water Not War” (Superman Is Dead), “Mafia Hukum” (Navicula), “Endonesya, Begitu Katanya” (Nostress), “Krisis Pangan” (Made Mawut), “Kepalkan Tangan Kiri” (Scared of Bums), “Stop The Bullshit” (Ripper Clown), dan “Bakar Ilusi Pulau Surga” (Ugly Bastard). *can