Mau Manggung, Leeyonk Sinatra Sempat Tersesat

LSS

Grup Leeyonk Sinatra

DALAM dua bulan terakhir, aktivitas Leeyonk Sinatra meningkat cukup tajam. Setelah beberapa bulan meluncurkan album “Bahagia Itu Sederhana”, kini grup yang memainkan lagu berbahasa Bali ini mulai memetik hasilnya. Mereka makin sering diundang tampil di berbagai acara. Tak hanya di Denpasar, grup ini juga mulai merambah daerah-daerah lain di pulau Bali.

“Bulan September, kami cuma dapat istirahat atau ada waktu kosong Cuma 8 hari saja. Ya, cukup melelahkan, tapi ini sangat menyenangkan,” ujar Leeyonk kepada mybalimusic.com di Denpasar, Selasa (30/9).

Ada pengalaman unik yang dialami personel dan kru Leeyonk Sinatra ketika diundang tampul di salah satu daerah di Tejakula, Buleleng. Lantaran itu baru pertama kali menempuh perjalanan ke daerah yang dituju, mereka sempat kebingungan hingga tersesat beberapa saat. Karena pengisi acara tak kunjung sampai, tak urung, panitia sibuk menghubungi Leeyonk Sinatra karena acara sudah dimulai. Penonton pun sempat kesal karena menduga penyanyi yang mereka tunggu tidak jadi datang karena panitia tidak jadi mengundang.

“Karena baru pertama kali ke daerah itu, maklumlah kami masih magabagan. Untunglah akhirnya kami bisa tiba di tempat acara tepat pada saatnya kami harus naik panggung, dan syukurnya kami dapat mengendalikan situasi,” lanjut Leeyonk.

Hingga saat ini, Leeyonk Sinatra sudah beberapa kali tampil di Buleleng, Karangasem, Tabanan, Gianyar, Denpasar dan sekitarnya, bahkan sudah pula menyeberang ke Nusa Penida. Tanggapan yang luar biasa dan antusias penonton, di luar dugaan mereka. Penggemar pun cukup beragam, walau kebanyakan anak-anak muda ABG. Uniknya, rata-rata lagu di album “Bahagia Itu Sederhana” bisa dinyanyikan oleh penonton.

Diakui, di awal-awal peluncuran album, respon terhadap kehadiran Leeyonk Sinatra memang agak lambat, dan baru belakangan pelan-pelan mulai menanjak. “Kami yakin semua akan indah pada waktinya. Untuk apa yang sudah tercapai hingga saat ini, kami tetap bersyukur kepada Tuhan atas jalan yang terbuka bagi kami,” ujarnya.

Leeyonk Sinatra pun kini mulai bisa berbangga diri, karena tidak dipandang remeh dan hanya dijadikan band gratisan yang hanya mencari kesempatan manggung. Dari pengalaman selama ini pula, menurut, Leeyonk Sinatra bertekad untuk akan selalu jujur dalam bermusik dan membuat lagu. Diakui, memang angka penjualan album “Bahagia Itu Sederhana” yang dikemas dalam format CD audio tidak begitu tinggi, namun itu tak mengecilkan semangat awak grup ini.  Karena bagi  dan kawan-kawan, tujuan utama bukan mengejar berapa hasil yang didapat dari penjualan CD, karena masalah pemasukan masih ada jalan lain melalui aktivitas manggung.

“Yang lebih penting bagi kami adalah bagaimana memikirkan kualitas lagu, ketimbang komposisi berapa banyak lagu dalam album dan target berapa album dalam setahun. Karena kami masih setia pada misi kami di awal, tak perlu menjadi terkenal, cukup dikenang lewat karya. Jika pun nanti dikenal atau terkenal, itu merupakan bonus bagi kami. Target utama kami, bagaimana tiap lagu bisa dikenang sepanjang masa oleh penikmat musik,” tandas Leeyonk.

Kiprah Leeyonk Sinatra di musik sudah dimulai sejak 2003. Saat itu Leeyonk yang bernama asli I Putu Indra Pratama bersama Kejot (drum) dan Alit Budiarta (bass) membentuk band dengan nama Leeyonk Ajak Telu yang memainkan musik punk rock berbahasa Bali.karena kesibukan masing-masing personel, grup ini resmi membubarkan diri di tahun 2007. Sebelumnya, untuk mengisi kekosongan, Leeyonk sempat mencoba bersolo karier dengan membuat single pertama “Tari Sing Pedidi” mulai menggunakan nama Leeyonk Sinatra. Nama ini dipilih tak lepas dari kekaguman Leeyonk terhadap sosok penyanyi legendaris dunia, Frank Sinatra. Bahkan nama Sinatra juga disematkan Leeyonk untuk nama putranya.

Hingga 2009 Leeyonk dibantu rekannya Bagiok membuat project lagu berbahasa Bali dengan campuran bahasa Indonesia dan Inggris, di bawah label Ba ‘n Ba Studio. Cukup lama project ini dirintis hingga 2013 Leeyonk yang merintis usaha coffee shop bertemu seorang rekan, Yudi Dharmawan. Berawal dari obrolan ringan, Leeyonk mengajak Yudi yang saat itu sudah mempunyai band bernama Wangsa untuk bergabung sebagai vokalis Leeyonk Sinatra. Sedangkan pertemuan dengan Jiggo yang menjadi pentolan grup musik etnik Palawara berawal dari undangan untuk mengisi satu acara teater. Jadilah kini Leeyonk Sinatra yang mulai menyebarkan “virus” Bahagia itu Sederhana. *adn