Gung Terry Tisna Nyanyikan Lagu Bali dari Hawaii

Terry1

Gung Terry Tisna (AA Terbika)

Ia ngadep tanah, tanah leluhur — ngadeang umah, jani ia lacur — jelema pongah sing ngaku salah, warisan suba telah — Demen magesah yening ia punyah, awak tua suba pawah — Cenik-cenike mai melajah — eda tuutang anak tua punyah — masekolah, ngalih ijazah

DINYANYIKAN dengan musik santai dan lucu, namun lirik lagunya sarat dengan pesan moral. Begitulah lagu “Anak Tua Punyah”, yang sudah sekitar dua tahun diunggah ke situs youtube. Mungkin ini salah satu lagu pop Bali yang mudah disimak, easy listening. Menariknya bukan dinyanyikan oleh generasi muda penyanyi lagu pop Bali yang ada di pulau dewata. Lagu ini digarap, dinyanyikan sendiri oleh Gung Terry Tisna yang kini bermukim di Waikiki, Hawaii.

Mungkin belum banyak publik Bali terutama penikmat musik pop Bali yang tahun sosok penyanyi yang satu ini. Karyanya memang belum ada yang beredar secara luas dalam bentuk kaset atau CD di Bali. Lagu-lagu yang dibuat Gung Terry Tisna bisa disimak secara online di youtube. Selain “Anak Tua Punyah”, juga ada lagu “Cai Ketut”, “Bebeke”, “Crazy Meong” (versi beda lagu anak-anak Bali kenamaan “Meong-meong), “Lovina” yang berirama dangdut. Ia juga menyanyikan lagu Jepang terkenal “Sukiyaki” yang dipopulerkan Kyu Sakamoto (alm.) ke dalam versi bahasa Bali dengan judul “Adi Edoh Buana Sepi”.

Mencermati nama Gung Terry Tisna, sepintas dapat ditebak latar belakang musisi dan penyanyi di dunia maya ini. Begitulah, ia tak lain putra dari AA Pandji Tisna, sastrawan angkatan pujangga baru dari Bali, yang dikenal dengan karyanya seperti “I Swasta Setahun di Bedahulu” dan “Sukreni Gadis Bali”. Dilahirkan dengan nama Anak Agung Terbika, pria yang melewati masa kanak-kanak dan remajanya di daerah Kaliasem, Buleleng, dekat dengan kawasan Lovina (nama yang juga diberikan oleh AA Pandji Tisna, singkatan dari Love Indonesia) .

“Saya selalu ingat waktu ajik marah-marah karena saya karena sering tidak mau membantu menjaga pegawai-pegawai di kebun jeruk di desa Kaliasam. Ajik marah-marah karena saya lebih senang genjrang-genjreng main gitar,” cerita Gung Terry Tisna kepada mybalimusic.com dalam satu kesempatan berbincang-bincang secara online.

Karena suka musik, ia kemudian membentuk grup band dengan nama Band 307, angka yang diambil dari nomor telepon rumahnya saat itu. Selain itu nama Band 307 juga mirip-mirip dengan James Bond 007 yang sudah sangat terkenal saat itu. Malah Gung Terry mengaku selalu menonton filmnya kalau ada kesempatan, ketika diputar di bioskop Muda Ria (dekat lapangan kota Singaraja) yang didirikan oleh ayahnya di Singaraja.

Pada masa itu, tahun 1967, di Singaraja hanya ada dua grup band, yakni Band Murindo yang memainkan jazz, dan Band 307 bentukan Gung Terry Tisna. “Dari sanalah saya coba mengembangkan hobi di musik dan berusaha memperdalam kalau ada genre baru, termasuk mengikuti gaya musiknya Elvis, The Beatles, The Rolling Stones, The Bee Gees, The Ventures. Tahun itu pula kami susah menggarap lagu berbahasa Indonesia dan Bali, tapi karena saat itu di Bali dan khususnya di Singaraja belum ada promotor dan produser yang bisa diandalkan, semua karya yang kami garap itu tidak sampai beredar secara luas, karena tak ada jalan keluar,” tuturnya.

Karena sering genjrang-genjreng, gradag-grudug, sang ayah kemudian menyuruh Gung Terry untuk melanjutkan kuliah ke Jerman, ikut tinggal di tempat kakaknya, Dr. Udayana. Bagi Gung Terry, “perintah” itu sangat menakutkan karena sama sekali tidak bisa berbahasa Jerman, walaupun sudah tiga tahu belajar di SMA 1 Singaraja.

Akhirnya Gung Terry terus tiang membujuk supaya diijinkan kuliah ke Amerika saja, karena dalam benaknya, bahasa Inggris lebih gampang mempelajarinya. Maka 1970, Gung Terry pergi merantau dan mulai kuliah tahun di College of The Ozarks, Missouri, menempuh jurusan Math & Science. Untuk sementara, kegemarannya bermusik dipendam dan sempat tak tersalurkan beberapa saat.

Sebelum tamat kuliah, Gung Terry sempat menjadi asisten professor, dan setelahnya mulai bekerja di Rossell engineering. Karena salju dan dingin yang luar biasa, Gung Terry mengaku tidak kuat tinggal di kota Branson. Ia pun mengundurkan diri dari pekerjaan, dan memutuskan pergi ke Hawaii untuk mencari pengalaman baru di tempat baru. Di sinilah kemudian ia bertemu jodoh di University of Hawaii.

Di Hawaii, pria yang kini berusia 64 tahun ini mulai menggeluti usaha ekspor impor, jual bajuk batik dari Batik Kris, juga sarung Bali dan lainnya. Hingga satu ketika kenalan temannya menawarkan untuk menjual perusahaan outsourching yang mengontrakkan pegawai-pegawai untuk bekerja di hotel-hotel di kawasan Waikiki. “Karena saya ada pengalaman dalam managerial accounting, saya tertarik dengan tawaran ini, dan usahanya berjalan sampai sekarang,” katanya.

Di Hawaii pula, Gung Terry punya banyak kesempatan untuk mulai menyalurkan hobinya di bidanh musik. Materi lagu-lagu yang sudah ada mulai dikerjakan di sela-sela kesibukan kerjanya. Lagu Sukiyaki berbahasa Bali ia edit di Hawaii, lagu Meong-meong, Cai Ketut, Ole-ole Luas Ke Klungkung, Eda Ngaden Awak Bisa, ia rekam menggunakan program musik di komputer. Sekarang era komputerisasi, semuanya menjadi lebih gampang untuk dikerjakan. Jadi biarpun cuma satu orang bisa merekam sendiri musik bass, piano, juga menyanyi.

“Kalau kemudian saya merekam lagu-lagu Bali dan mempublikasikannya di youtube, tujuan saya paling utama untuk ajeg Bali, mangda mawibawa. Ya … bisa juga dibilang untuk iseng-iseng. Kalau masyarakat Bali suka mendengarkan, mungkin saja nanti bisa direkam ke dalam format CD atau DVD dan disebarluaskan,” ujar Gung Terry.

Lagu “Adi Edoh Buana Sepi” (Sukiyaki versi Bali) yang diunggah Gung Terry di situs youtube dua tahun silam, pertama kali dimainkan oleh Band 307 tahun 1967 ketika diundang dalam satu acara ABRI di Denpasar. Oleh Gung Terry, lagu yang terkenal di seluruh dunia tersebut dialihbahasakan ke dalam bahasa Bali dengan pilihan tata bahasa yang  terbilang rapi. — Wireh adi ten tresna, wireh adi tiang duka —  Mangkin buana asa sabeh bales — Nenten uning keiwangan Bli — Adi edoh, buana sepi ….

Meskipun sudah lama berada di luar negeri, tidak membuat Gung Terry Tisna lupa akan daerah asalnya. Menyanyikan lagu berbahasa Bali menjadi pilihannya untuk menunjukkan kecintaannya kepada kampung halaman. Apa yang dilakukannya, menambah panjang nama-nama putra asal Bali di tanah seberang yang bermain musik dan sempat menyanyikan lagu berbahasa Bali. Misalnya saja dulu ada grup “Kalih Warga Chicago”, Dewa Suwija yang berdiam di Inggris, Wayan Sam yang kini ada di Los Angeles, California, atau Agus Lele yang bermukim di North Providence, Rhode Island, Amerika. Dan kini, melalui Gung Terry, lagu pop Bali mengalun dari Hawaii. *adn