Mendukung Secara Nyata, Bukan Hanya Kata

kaseee

* SEBUAH CATATAN ADNYANA71

BEBERAPA waktu lalu saya membaca komentar salah seorang penggemar lagu pop Bali di salah satu sosial media. Ia “memergoki” orang yang mengaku sebagai penggemar Lolot sedang mencari album terbaru pionir Bali Rock Alternative itu. Bukan rekamannya dalam bentuk CD audio yang dicari, pun mencarinya bukan di toko kaset. Ia mencarinya di pasar malam, rekaman dalam bentuk VCD video klip, yang bisa dipastikan itu “bajakan”. Ketika ditanya mengapa tidak mencari rekaman yang orisinal, dengan enteng ia berdalih, “ah, toh suaranya sama saja”.

Ilustrasi di atas bukan baru sekali ini terjadi, bahkan menimpa hampir semua penyanyi dan band Bali yang merekam karyanya, baik band lagu berbahasa Bali atau band indie. Seorang penyanyi lagu pop Bali yang baru dua hari sebelumnya merilis kaset terbaru juga pernah “memergoki” masyarakat yang mengaku  sebagai penggemar lagu Bali, tengah mencari album itu di lapak bajakan di pasar malam Angsoka, Kereneng. “Ada album barunya si ….???” tanya si “penggemar” itu.

Dengan kenyataan seperti itu, wajar banyak produser rekaman yang memilih untuk berhenti “jualan” dan putar haluan. Begitu pula penyanyi dan grup band Bali tak hentinya mengeluhkan bertapa kurang “bersahabatnya” pasar penikmat musik saat ini. Bahkan dalam satu obrolan belum lama ini, kepada penulis, Made Bawa alias Lolot secara langsung mengeluhkan betapa susahnya menjual album terbarunya “Nyujuh Langit”. Bukan karena masalah materi rekaman, karena terbukti banyak yang merespons baik kebangkitan kembali Lolot n’ Band, dan pertunjukan mereka pun masih banyak menyedot penonton.

Pengalaman lainnya, saat ulang tahun Antida Soundgarden Sabtu (20/9) malam, pengunjung berjubel memadati tempat acara yang memang tak seberapa luas. Jumlahnya ratusan, itu pasti. Sebagian besar dari mereka menantikan penampilan Dialog Dini Hari, dan juga mengelukan pemunculan Nostress. Ketika secara iseng Gung Anom selaku tuan rumah bertanya ke penonton, siapa saja yang sudah punya album terbaru DDH, “Tentang Rumahku”? Dari ratusan yang hadir, jumlah yang angkat tangan tak sampai belasan orang.

Tiap kali ada teman yang mengajak diskusi, tukar pendapat, dan menanyakan bagaimana pasar musik di Bali? Bagaimana kondisi penggemar musisi Bali? Yakin saya menjawab, sebagian penyanyi dan musisi Bali masih memiliki penggemar yang banyak, atau apa yang disebut sebagai fans, dari yang sekadar nge-fans sampai fans fanatik. Saya berkeyakinan jawaban saya tidak berlebihan, karena sekali lagi fakta menunjukkan, beberapa penyanyi dan band mampu “menyedot” paling tidak puluhan, bahkan ratusan mereka yang menyatakan diri sebagai penggemar, untuk hadir di mana pun si penyanyi atau grup band tampil.

Logikanya, apabila penggemar ada dan jumlahnya banyak, tentu tidak sulit untuk jualan rekaman. Entah dalam bentuk pita kaset (walau sudah amat sangat jarang kini), CD audio, atau VCD. Hanya kalau mau jujur bertanya kepada penyanyi dan grup band yang berjuang habis-habisan menghasilkan karya dan mencoba memasarkannya sendiri, berapa banyak rekamannya yang terjual? Saya tebak sebagian besar harus bersusah payah menghabiskan angka 1.000 keping CD (jumlah yang umum disyaratkan kalau proses penggandaan secara professional di perusahaan duplicating di kota besar seperti Surabaya atau Jakarta). Kalaupun ada yang mampu jualan di atas angka itu, amat sangat langka. Tak heran kalau akhirnya beberapa musisi atau grup band yang sengaja tidak menggandakan secara professional rekaman mereka, namun sendiri menggandakan secara manual. Dengan demikian jumlah CD yang beredar bisa “dicicil” atau hanya berdasarkan pesanan atau order. Nah, itupun kalau ditotal jumlahnya, akan sangat susah menembus 1.000 keping.

Di mana letak masalahnya? Mereka yang mengaku sebagai penggemar musik, masih banyak bakan terus bertambah. Mereka yang menyatakan sebagai penggemar satu penyanyi atau grup band, juga banyak. Mereka yang menyebut diri sebagai pendukung, fans fanatik, juga tak kalah banyak. Lihat saja bagaimana antusiasnya “penggemar’ itu berkomentar dan mengikuti segala info pada grup idola mereka di berbagai media sosial. Apakah materi lagu dan musiknya kurang disukai? Saya rasa tidak juga, karena ternyata tiap kali penyanyi dan grup band itu tampil, kerap terdengar penonton ikut menyanyi atau malah “koor” pada beberapa lagu. Apakah si penggemar tidak sanggup membeli rekaman idolanya? Agaknya bukan itu pula. Untuk rekaman orisinal seperti CD audio, rata-rata dilepas dengan harga berkisar 25 – 50 ribu rupiah. Tentu angka tersebut relatif amat terjangkau untuk satu album yang baru dirilis dalam kurun waktu satu atau dua tahun.

Lalu apa masalahnya? Saya berasumsi kalau mereka yang menyatakan diri sebagai pendukung, penggemar seorang penyanyi atau grup band, belum memahami bagaimana menjadi “penggemar yang baik”. Penggemar umumnya berharap idola mereka tetap eksis dan terus berkarya, tapi bagaimana si idola akan bisa tetap eksis dan berkarya kalau dukungan yang diberikan oleh penggemar hanya sebatas kata? Dukungan yang paling nyata dan paling mudah, dengan membeli karya asli si idola saja enggan. Di sini saya setuju dengan celetukan juga sindiran seorang teman, penyanyi lagu Bali, yang di panggung kerap menyindir penonton, “Lek ati ngaku penggemar, lamun meli rekaman sing bani. Lamun sing maan ngidih, ane bajakan alihe” (malu dong, ngaku jadi penggemar, kalau beli rekamannya saja tidak berani. Kalau tidak dapat minta, bajakan yang dicari).

Secara mudah saya dapat memetakan penggemar musik Bali ada beberapa kategori. Mereka yang memang benar-benar penggemar, tak hanya mengatakan suka, tak hanya datang menonton ketika idolanya tampil, tetapi juga membeli rekamannya yang asli. Penggemar kedua, mereka yang menyatakan suka, membeli rekamannya yang asli,  namun karena satu dan lain hal kurang suka menyaksikan konser live. Penggemar ketiga, mereka yang menyatakan suka, rajin mengikuti dan menyaksikan sang idola konser live, tapi tidak mengoleksi rekamannya. Penggemar keempat, mereka yang menyatakan suka, sering menyaksikan sang idola konser live, tapi kalau beli rekamannya, cari yang bajakan. Penggemar kelima, mereka yang menyatakan suka, tidak suka menyaksikan konser live, belinya rekaman bajakan. Keenam, mereka yang menyatakan suka, kadang menonton konser live, tidak membeli rekamannya, tetapi “minta” dari teman atau mengunduh dari internet (kalau ada).

Kalau saja kebanyakan mereka yang mengaku sebagai penggemar tidak paham bahwa antara idola dan penggemar harus bersinergi, saling mendukung secara nyata, maka akan sulit berharap musisi (bukan hanya di Bali) akan eksis dan mampu terus berkarya. Untuk menghasilkan satu album rekaman diperlukan waktu yang tak singkat, juga biaya yang tak sedikit untuk proses rekaman, mixing, hingga penggandaan hasil rekaman. Belum lagi untuk mengedarkannya, membuat video klip, dan sebagainya. Semua itu jelas, butuh biaya, tidak gratis. Itu pun belum terhitung imbalan atau istilah kerennya “apresiasi” untuk jerih payah dalam menciptakan lagu, menyanyikannya, dan memainkan musiknya.

Bagaimana dengan saya pribadi? Sebagai seorang wartawan, penulis, saya memang cukup sering dikirimi atau dikasih rekaman seorang penyanyi atau grup  band secara cuma-cuma. Tapi itu bukan alasan bagi saya untuk kemudian berdiam berdiri, menunggu dapat gratisan terus. Kalau saya memang suka, sebagai bentuk dukungan, saya takkan segan untuk merogoh kocek untuk mendapatkan rekamannya. Karena saya berprinsip, hanya dengan cara itu saya bisa menghargai jerih payah, karya si musisi, sekaligus membantu si musisi untuk tetap semangat berkarya. Begitupun jika ada pertunjukan, saya tak segan membeli tiket tanda masuk, sekalipun bisa saja saya dapat freepass karena posisi saya sebagai awak media.

Sekitar sepuluh tahun silam, saya pernah mendapati satu grup band Bali yang potensial tengah berjuang, menggalang dana untuk bisa berangkat mengikuti final kompetisi band bergengsi di Surabaya. Melihat semangat mereka, juga karena memang layak didukung, secara pribadi saya mengulurkan tangan untuk turut sekadar menyumbang, yang kalau dihitung nilainya sekitar 20 persen dari gaji saya saat itu. Apakah untuk sekadar gaya-gayaan biar dijadikan bahan cerita? Maaf, waktu itu saya tulus membantu, dan itulah yang bisa saya lakukan saat itu sebagai bentuk penghargaan, dan dukungan nyata.

Saya berkesimpulan, seorang penyanyi dan grup band takkan pernah bisa eksis dan tetap berkarya – apalagi untuk hidup dari musik — kalau tak ada dukungan secara nyata dari penikmat musik. Marilah mendukung para seniman musik bukan hanya sekadar kata, berikanlah dukungan nyata, jadilah penggemar yang bukan hanya gemar tapi tak mau ambil bagian dalam “menjaga” apa yang kita gemari. Salam secangkir kopi hangat dan semangat terus untuk penyanyi, musisi di Bali. ***