“Rock Emotional” ala Neofelist

Neo2

Neofelist, grup band indie dari Bali

BANYAK cara yang bisa dilakukan untuk menuangkan kreativitas. Bahkan bagi kaum muda, berkreasi juga bisa untuk mengarahkan emosi agar tidak terjerumus ke hal yang negative. Misalnya saja, dengan menuangkan emosi tersebut ke dalam musik, sebagaimana yang dilakukan sejumlah anak muda yang bergabung ke dalam grup band Neofelist. “Kami ingin mengarahkan emosi yang cenderung ke arah negative menjadi lebih positif dengan menuangkan ke dalam musik yang bergenre rock emotional. Inilah yang kami harap dapat menuntut kami ke dalam kreativitas di dunia seni musik,” jelas

Di kancah band indie Bali, Neofelist diketahui sebagai metamorofsa dari band Scream In Silence yang dibentuk 16 Maret 2007. Grup yang banyak mendapat pengaruh dari band-band emo, post hardcore dan nu metal seperti The Used, Saosin, Finch, MCR, Alesana, dan BFMV ini digawangi Yudha Pump (vokal, gitar), Dfat (drum), Rio (bass), dan Deta (gitar). Setelah sempat vakum karena kesibukan masing-masing personel, akhir 2009 grup ini mencoba bangkit kembali. Masuknya Jonny yang memperkuat instrument gitar, memberi semangat baru hingga kemudian mereka sepakat merubah nama Scream In Silence menjadi Neofelist. Hingga kini, formasi terbaru Neofelist : Yudha (vokal, gitar), Dfat (drum), Yudix (bass), Deta (gitar), dan Jonny (gitar).

Hingga saat ini, Neofelist sudah menghasilkan satu album rekaman yang diberi judul “Alone”, dengan lagu seperti “Sesal”, “Pengecut”, “Antara Kau dan Dia”, “Pikirkan”, “Save Me”, dan “Teman”. Masih seperti saat awal dibentuk, Neofelist memainkan genre rock emotional, musik yang diwarnai suara distorsi menderu, hentak beat bertenaga, harmonis dengan lirik yang apa adanya, namun jujur dan tetap memperhatikan isis komersialitas.

Akan halnya nama Neofelist, menurut Jonny, diambil dari nama jenis kucing dahan. Filosofi yang dipetik dari nama ini, bahwa kucing dahan kalau dilempar dari ketinggian berapa pun dia akan tetap mendarat dengan keempat kakinya. “Ini seolah-olah selalu mengingatkan kami untuk tetap tegak berdiri menghadapi kerasnya hidup. Ya … Neofelist mungkin cuma sebuah nama yang aneh, tapi nama ini kami pilih sebagai sebuah tempat kami menumpahkan segala emosi serta pikiran,” demikian Jonny. *adn