Kuatnya Citarasa “Folk” di Album Ke-2 Nostress

nostressTRIO musisi indie Bali, Nostress, kian menunjukkan jati dirinya sebagai pengusung musik folk. Kesan itu tertangkap dari album ke-2 mereka “Perspektif Bodoh II” yang diperkenalkan dalam satu acara peluncuran di Taman Baca Kesiman, Denpasar, Jumat  (22/8) malam. Peluncuran sengaja tidak digelar besar-besaran dengan mengundang banyak pihak, selain mengingat lokasi yang terbatas, Nostress juga ingin semuanya nyaman menonton, dan terjalin suasana keakraban.

“Perspektif II” yang dikemas dalam format CD audio memuat 10 lagu. Dibandingkan album pertama “Perspektif Bodoh” yang dirilis 2011, kali ini Nosstress terasa kian segar, cerdas meracik musik dan lirik. Kuatnya citarasa folk makin terasa manakala Man Angga (gitar, vokal), Cok Bagus Pemayun (cajoon/harmonika/pianika) dan Guna Warma (gitar, vokal) “sengaja” menjauhkan diri dari kesan distorsi dan unsur elektrik. Bertiga, mereka lebih suka mengeksplorasi kelihaian mereka dalam meramu akustik dengan cita rasa folk. Ini terasa dari perpaduan apik pada gitar, cajoon, maupun ukulele, kencrung, jimbe juga harmonika.

Di album keduanya ini, Nostress berkolaborasi dengan Sanjay, gitaris The Kantin dan Pygme Marmosset, juga musisi blues Made Mawut. Soal judul album, “bodoh” yang dimaksud bukanlah bodoh tidak tahu apa-apa atau stupid, tetapi maksudnya mencoba memandang sesuatu secara “bodoh”, secara sederhana, bukan dibuat rumit. “Kadang-kadang kita boleh menemui inti masalah itu dengan memandang secara sederhana saja, daripada dipandang secara rumit, mengelembung arah entah ke mana-mana. Jadi perspektif bodoh itu memandang dengan kesederhanaan, sesuai dengan musiknya, sesuai dengan kesederhanaan,” ujar Man Angga.

Beragam tema ditawarkan Nostress di album keduanya ini, mulai dari “Manipulasi hari, sebuah kontemplasi indah dalam mengisi kekosongan hari  dan tetap optimis menjalaninya. Ada pula “Taman Saja” yang sebelumnya sudah beberapa kali diperkenalkan kepada pendengar Nosstress sebagai satu single, “Lagu Semut” perpaduan akustik akapela ala Nosstress, “Apa Susahnya” yang membeberkan cinta tak hanya di mulut saja, bagaimana hidup saling bisa menerima meskipun berbeda latarbelakang warna kulit dan kepercayaan. Fenomena sosial pulau Bali kekinian juga terekam dalam lagu “Ini Judulnya Belakangan”. Selain itu ada pula lagu “Minor Bahagia”, “Pegang Tanganku”, “Semoga Hanya Lupa”, “Lagu Untukmu” dan lagu penutup “Perpsektif Bodoh” yang menjadi gambaran besar dari judul album terbaru Nosstress. *adn/can

Nos2
Grup band Nostress

About the author