Semangat Baru untuk Lagu Pop Bali

bali8

Nonok, penyanyi pop Bali lawas menembangkan kembali “Capung Gantung”

* CATATAN DARI ACARA “GITA HARMONI LAGU POP BALI DARI MASA KE MASA”

PENYANYI lagu pop Bali lawas manggung di hadapan anak muda masa kini, yang lebih dekat dengan musik dari grup band, seperti apa jadinya? Masihkah ada yang ingat dengan mereka yang sebagian besar sudah jarang tampil? Masih adakah yang tahu dan hafal lagu mereka, karena eranya sudah berbeda?

Kekhawatiran semacam itu sempat menghinggapi pikiran sejumlah penyanyi pop Bali yang angkat nama di tahun 90-an — bahkan ada pula yang di tahun 80-an — sesaat sebelum tampil di acara Gita Harmoni Lagu Pop Bali dari Masa ke Masa yang digelar Pramusti Bali di panggung terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Denpasar, Sabtu (9/8) malam.

Rasa pesimis itu terang-terangan diungkapkan penyanyi seperti D Antoni, Eka Jaya, Panji Kuning, bahkan juga oleh mereka yang berkiprah di musik pop Bali sejak tahun 80-an seperti Nonok, Ian Bero, De Pengkung dan De A lot. Pun, kesan tidak percaya diri itu dapat dilihat dari ekspresi dan gerak tubuh mereka pada detik-detik awal memasuki panggung, disaksikan lebih dari 4.000 penonton.

Lalu lihatlah apa yang terjadi kemudian. Bintang pop Bali pada masa itu masih bersinar dan masih punya magnet menarik perhatian penonton. Seperti memutar kembali rekaman lama untuk bernostalgia, tak hanya penonton yang sudah dewasa larut dalam lagu yang dinyanyikan, pun remaja yang sebagian besar pendukung grup band pop Bali, merespon dengan baik bahkan turut menyanyi bersama misalnya manakala D Antoni mengajak menembangkan “Depang Beli Pedidi”, atau Bayu KW berjoget dengan “Kanggoang Malu”.

Sebelumnya ada satu kejutan dari penyanyi senior Nonok yang mengawali pementasan. Dalam kondisi yang tidak begitu prima, Nonok sambil memetik gitar “menghadiahi” penonton dengan hits lamanya “Capung Gantung” yang beberapa waktu lalu kembali dipopulerkan oleh Lolot. Pilihan yang jitu, karena Nonok tak hanya mengembalikan kenangan penonton dewasa tetapi juga sekaligus mengajak penonton remaja menyanyi bersama pada beberapa bagian. Tak pelak, respon hangat dari penonton sangat menumbuhkan rasa percaya diri Nonok yang begitu bersemangat menuntaskan lagu lawas tersebut.

Bali2

Eka “Badeng” bersama 3G membawakan ulang “Kidung Kasmaran” yang dipopulerkan Okid Kress di tahun 80-an

Jalan Panjang Rekaman Lagu Pop Bali

Konser Gita Harmoni Lagu Pop Bali dari Masa ke Masa yang digelar sebagai bagian dari  acara Bali Mandara Mahalango, sejak semula memang sudah dirancang sebagai pertunjukan yang menampilkan “wajah” lagu pop Bali dari era 70-an hingga masa kini, dengan merangkum penyanyi solo dari generasi ke generasi, hingga eranya grup band berbahasa Bali.

Sayangnya, tidak semua “penanda” pada zamannya bisa tampil karena ada jadwal acara lain yang tidak bisa ditinggalkan, seperti absennya Ketut Bimbo, Yong Sagita, Alit Adiari, juga Dek Ulik. Bahkan Widi Widiana yang sejak awal dipastikan ikut serta, ternyata urung tampil. Namun demikian secara keseluruhan pentas yang berlangsung lebih dari 4 jam nonstop cukup mewakili wajah rekaman lagu berbahasa Bali selama lebih dari empat dekade.

Jalan panjang rekaman lagu pop Bali yang berawal di tahun 70-an dengan masa kejayaan band Putra Dewata pimpinan AA Made Cakra (alm.), diwakili dengan lagu “Kusir Dokar” yang dinyanyikan dengan gaya jenaka oleh Trio Takur. Era 80-an “dibangkitkan” kembali dengan tampilnya Nonok (yang pernah populer dengan lagu “Sing Ade Ape De”), Ian Bero yang membawakan salah satu hits-nya “Sopir Bemo”, D Pengkung menembangkan “Negak di Bucun Desa”, hingga AA Rakadanu (pencipta lagu, juga mantan personel band Putra Dewata) yang menembangkan salah satu karya AA Made Cakra, “Bungan Sandat”. Untuk lagu “Kidung Kasmaran” yang dipopulerkan Okid Kress (alm.) dibawakan Eka Badeng bersama 3G.

Dari generasi 90-an hingga awal 2000-an, selayaknya Widi Widiana muncul sebagai salah satu king of pop rekaman pop Bali. Namun urungnya penampilan Widi tak mengurangi antusias penonton menyaksikan penyanyi dari masa ini seperti De Alot yang menembangkan “Legu Galak-galak”, Panji Kuning dengan “Mati Ngadeg”, Yan Se “Kenyem Manis”, Mang Gita “Kapu-kapu”, Mang Cucun “Sayang Sekayang-kayang”, Ayu Saraswati (didukung Gus Teja) dengan lagu “Tekor Don Biu”, Eka Jaya “Selem-selem Manis”, Mang Senior “Bagus Makeplug”, D Antoni “Depang Beli Pedidi”, Agung Wirasuta “Tresna Garang Kuluk”, dan Ray Peni “Bunga Nu Perawan”.

Satu dekade terakhir lagu pop Bali yang banyak diwarnai oleh grup band, menampilkan lima dari puluhan grup yang pernah merekam lagu berbahasa Bali. Diawali dari formasi baru Lolot yang nonstop mengajak penonton melangkah mundur mengenang awal munculnya trend bali rock alternative dengan tujuh lagu secara medley, mulai dari “Ngugut Jeriji”, “Bali Rock Alternative”, “Ulian Punyah”, “Arta Utama”, “Dagang Kopi Jegeg”,  dan “Tresna Memaksa”. Beruntun kemudian tampil XXX, Bintang, Nanoe Biroe, dan puncaknya KIS. Masing-masing band mencoba menampilkan performa terbaik mereka di hadapan bukan hanya penggemar sendiri, tetapi di hadapan seluruh penggemar lagu berbahasa Bali.

Milik Penggemar Lagu Pop Bali

Pergelaran Gita Harmoni Lagu Pop Bali dari Masa Ke Masa dapat dikatakan benar-benar menjadi “milik penggemar lagu pop Bali”. Dapat dibayangkan, belasan penyanyi solo dan lima grup band, tentu punya penggemar masing-masing. Namun ribuan penonton yang menyaksikan acara menunjukkan sikap yang kurang lebih sama, bukan hanya mendukung satu dua penyanyi, tetapi lebih mendukung lagu pop Bali.

Dukungan tersebut dibuktikan sejak awal acara dibuka, penonton tak beranjak dari tempat duduk. Bahkan penonton baru mulai meninggalkan tempat setelah KIS mengakhir penampilan dengan remix lagu “Sadar” setelah lewat tengah malam, sekitar pukul 00.05 wita. Sebagaimana komentar Komang Arjawa, salah satu musisi yang juga mantan Ketua Pramusti Bali, sangat jarang ada pertunjukan di mana nyaris seluruh penonton bertahan sampai  pukul 24.00, dengan durasi pertunjukan empat jam lebih. Ini menunjukkan bagaimana dukungan mereka terhadap lagu pop Bali.

Bahwa penonton yang datang menunjukkan kecintaan terhadap lagu pop Bali, ditunjukkan dengan sikap kalau tak ada sekat-sekat sebagai penggemar fanatik salah satu penampil atau grup band. Selain saling mendukung antarsesama penggemar salah satu band, KIS-lover, Baduda, Sahabat Bintang, Mister X dan penggemar Lolot juga turut mendukung dan ikut menyanyi saat penyanyi solo seperti D Antoni, Bayu KW, mengajak mereka menyanyi bersama.

Tak berlebihan jika kemudian selain semangat kebersamaan sebagai sesama pecinta lagu pop Bali, juga muncul semangat baru bagi penyanyi dan grup band yang tampil untuk terus berkarya, karena terbukti kalau lagu pop Bali masih mendapat tempat tersendiri di hati penggemarnya. Bahkan kemudian muncul harapan dari penonton, bukan hanya sekali ini saja digelar acara yang juga menjadi ajang reuni penyanyi pop Bali dari masa ke masa, namun kelak bisa dibikin lagi acara serupa, dengan melibatkan lebih banyak lagi pengisi acara yang mewakili eranya. *adn

Bali3

Ayu Saraswati dibarengi Gus Teja menyanyikan “Tekor Don Biu” ciptaan AA Made Cakra (alm.)

Bali4

AA Rakadanu, salah satu personel band Putra Dewata menembangkan “Bungan Sandat”

bali5

De Alot mengajak penonton bernostalgia dengan “Legu-legu Galak”

bali7

Bayu KW masih enerjik dan mampu mempengaruhi penonton dengan “Kanggoang Malu”

bali6

Jun Bintang menyanyikan kembali “Dewa Ratu”, hits di album debutnya “Bajingan Eling”

bali9

Nanoe sebagai generasi penyanyi pop Bali masa kini menyerukan semangat “menyama”