Pygmos Belum Berpikir Album Baru

pygmos1

Zenith dan Sanjay dari duo Pygmy Marmoset (Pygmos)

ADA yang mengatakan, selain kemampuan bermusik dan menyanyi, yang membuat satu grup mudah diterima publik, salah satunya karena penampilan yang khas, punya ciri atau berbeda dari grup maupun penyanyi kebanyakan. Konsep ini dipakai beberapa nama musisi dari Bali dan lumayan mendapat tempat atau mencapai sukses. Hal serupa kini ditawarkan satu nama “aneh dan unik”, Pygmy Marmoset atau disingkat Pygmos.

Susah diucapkan? Tak apa. Yang penting bukan soal nama yang kalau ditelurusi adalah sejenis monyet mungil yang hidup di hutan hujan di barat Brazil, tenggara Kolombia, timur Ekuador, dan sebelah utara Bolivia, dengan ketinggian sekitar 200 hingga 940 m dpl. Lebih penting apa yang mereka mainkan, apa yang mereka tawarkan untuk penikmat musik.

Ya, Pygmy marmoset yang satu ini amat jauh dari hutan hujan Amerika Selatan, walau sering terlihat di taman bermain atau taman kota. Yang pasti mereka bukan monyet, tetapi dua anak muda yang tengah gemar bereksperimen di bidang musik. Adalah pertemuan tanpa sengaja Zenith dan Sanjay kemudian berlanjut dengan obrolan untuk membuat lagu anak-anak dan stok lagu lain, yang pastinya tak akan cocok jika dibawakan oleh band masing-masing. Untuk info, Sanjay sebelumnya bergabung dengan D’Kantin, sedangkan Zenith pernah bergabung dengan Emergency Exit.

Persamaan ide untuk membuat karya yang santai dan mudah dicerna, mendorong Sanjay dan Zenith untuk melahirkan Pygmy Marmoset. Hanya berdua, mereka memainkan musik “bersahaja” dengan genjrengan gitar akustik, dentingan glockenspiel, hembusan pianika, yang menjadi dasar lagu-lagu Pygmos yang ceria.

“Mendengarkan Pygmos bernyanyi seperti berada di lapangan bermain dengan dikelilingi pohon-pohon yang rindang, sambil bermain gelembung sabun ataupun berlarian bermain layang-layang,” jelas Sanjay.

Di sisi lain, Zenith menambahkan, sesungguhnya apa yang dimainkan Pygmos tidak seluruhnya  ringan, juga tidak semunya berkesan anak-anak. “Materi yang kami bawakan lebih ke pesan-pesan peduli lingkungan, hanya nggak terkesan berat dan berbau politis,” tambahnya.

Sebagai duo, Zenith mengaku nyaman dengan Pygmos. Tidak ada pemikiran yang ribet, ide-ide mengalir begitu saja, dan dia pun santai saja berkreasi dengan Sanjay. Mungkin karena tidak ada beban atau target yang terlalu jauh, Zenith pun mengaku hingga saat ini Pygmos belum terpikir untuk membuat rekaman lagi, walaupun kesempatan ada, dukungan pun mulai bermunculan.

“Ya … sementara cukup segini saja dulu, setelah melepas  album pertama dengan kemampuan sendiri, lumayan juga sih responnya.  Jadi belum terpikir untuk album berikutnya,” demikian Zenith.

Sebelumnya, April lalu Pygmos sudah meluncurkan album “Kabar Dari Hutan” yang memuat delapan lagu, antara lain “Layang-layang”, “Merindu”, dan “Cerita Tentang Pohon”.